Kebaikan itu selalu INDAH

Kebaikan itu selalu INDAH
Teladan, tempatku kini dan apa yang kan kuperbuat nanti.. Walau menurutku apa yang kan terjadi itu semua masih misteri tapi tak kan pernah menyurutkan semangatku untuk berusaha yang sebaik mungkin.. Dan Atas ijinNYA, aku yakin bahwa Alloh memiliki rencana yang jauh lebih INDAH daripada apa yang aku, makhlukNYA rencanakan.. Bismillah, Dengan menyebut nama ALLOH, kulangkahkan kaki ini, agar aku tak kan hanya berdiam diri :)
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2011

Mereka Memang Perhatian


Berpikir tentang hubungan keluarga ini. Mungkin kita yang sedang masa-masa nya berontak karna sudah punya prinsip masing2 bakal menyalahkan kedua orangtua kita, atau bahkan tak terima atas sikap mereka kepada kita. Terkadang kita berpikir, "ah, Mereka tidak mau mengerti aku". Ketika ayah berbicara keras karna kita ketahuan berkelahi atau suara ibu yang tak pernah berhenti mengingatkan kita ketika kita bangun kesiangan. "Ah mereka tidak mau mengerti aku". Ketika ayah mengadakan forum keluarga dan kita sebagai objek nya atau ketika itu ibu menyuruh kita untuk membeli beberapa bumbu dapur. "ah, mereka tidak mau mengerti". Sekarang, berimajinasilah kita, coba masuk ke dalam dunia masa kecil kita, saat mulut masih belum bisa berucap, saat banyak orang terlihat begitu asing bagi kita, saat rambut belum menumbuhi tubuh kita itu. Tidak tidak ! Jauh sebelum itu, saat kita tengah berbentuk ruh dan dipersiapkan oleh Alloh dalam jasad nya. Tidak tidak, ternyata masih jauh sebelum itu, saat kedua orangtua kita masih memimpikan punya anak seperti kita. Ya bayangkan begitu jauh nya. Bayangkan saat itu kedua orang tua kita tengah duduk di bangku sekolah ataupun pelajaran, mereka menuliskan dalam angan mereka "Aku harus rajin belajar, aku harus mampu meraih kesuksesan melalui belajar, agar nanti bisa memiliki kehidupan yang layak, untuk keluarga ku dan terutama masa depan anak-anak ku." satu poin kesalahan kita, mereka sudah mempersapkan untuk kita. Sekarang saat mereka mendapatkan pekerjaan, "Aku harus mendapatkan penghasilan yang layak, agar bisa menabung untuk kehidupan ku dengan isteri ku dan anak-anak ku nanti" dua poin kesalahan kita, ada harapan dia untuk kita. Hingga akhirnya ia menempuh hidup baru dengan pasangan nya, ayah kita berkata, "aku akan berhenti merokok, agar anak-anak ku nanti terhindar dari resiko penyakit kartna aku merokok", dan ibu kita berkata "aku akan berhenti bermain-main bersama teman-temanku, aku akan lebih banyak belajar memasak dan mengurus rumah tangga agar nanti anak ku mampu tumbuh dan berkembang melalui makanan yang kubuat" tiga bahkan empat poin kesalahan kita, mereka rela meninggalkan kebiasaan mereka yang teramat berat pasti nya mereka tinggalkan, hanya untuk kebaikan kita. Dan hingga akhirnya kita dikandung, betapa mereka berdua sangat menderita karna kita tapi sahabat, bandingkan betapa lebih banyak nya senyum dalam sakit yang ibu kita berikan dan lebih banyak kebahagiaan yang di sela keringat bapak kita, mereka berdua sama-sama memiliki pikiran "UNTUK ANAK KITA". nah sudah berapa ratus bahkan ribu jika kita ingin menjabarkan betapa orang tua kita jauh lebih perhatian dari pada yang kita kira. sudah saatnya, kita sebagai anak lebih memahami mereka, atau lebih kasar nya, maaf, sudah saatnya kita TIDAK MENJADIKAN DIRI KITA RAJA dan MENJADIKAN DIRI MEREKA BUDAK KITA, sudah saat nya kita memberi bukan lagi diberi. Komunikasikan pada mereka, karna satu rahasia yang mereka simpan dari kita, MEREKA BEGITU MENYAYANGI KITA DALAM SETIAP HAL YANG MEREKA LAKUKAN PADA KITA!
Perhatian lha dengan keluarga, because we are FAMILY
"Father And Mother I Love You"
:)

Segala puji bagi Alloh
Untuk setiap detil kehidupan
Untuk Kedua orangtua ku
Untuk engkau sayangku
dan Untuk mu sahabat-sahabat ku
:)
Powerfromyourself.blogspot.com

Kamis, 25 Agustus 2011

Khulafaur Rosyidin berbicara AMANAH !

Abu Bakar r.a. Berkata: "Demi Alloh, tak pernah saya memimpikan menjadi pemimpin umat, walau hanya sehari atau semalam pun ! Dan tak pernah pula saya memintanya kepada Alloh baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Dan kalau tidaklah dengan meninggalkan jabatan itu berarti saya lari meningggalkan tanggung jawab terhadap agama dan keimanan, tentulah saya akan lari ke mana dibawa kaik"
Umar Bin Khotob r.a berkata: "Hai Umat Muhammad ! Saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandainya tidaklah karena didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik dari kalian, orang yang terkuat bagi kalian dan orang yang paling teguh menunjang urusan-urusan kalian, tidaklah saya akan bersedia menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar menunggu datangnya hari perhitungan"

Subhanalloh :')

Minggu, 17 Juli 2011

~Waktu dan baumu yang terpancar, sengit~

Melihat kacamata buram sesuatu hal bening yang terpancar melalui celah-celah yang memendarkan tak selayaknya hanya tujuh warna, karna ia pekat dan jernih berada dalam satu garis yang bila ditarik entah penting atau tidak panjangnya, karna ia saling terkait terhadap pusaran pun demikian, karna yang berputar nanti nya suatu saat akan berhenti tetapi rasa pusing itu pasti akan berbekas di sini, tak mendengar lagi suara lantang berteriak dengan penuh semangat di sini apa dan di sana apa. yang ada hanyalah kacamata buram. Penuh !
Melihat kacamata buram tak lagi hanya tertidur ketika memakainya," takut patah" kata pria tua yang masih sanggup berlari mengalahkan bayi muda, ketika ia takut dengan semua  bayang yang ada, ia hanya terlalu sombong hingga ia mengadahkan kepala nya terlalu tinggi hingga tak menyadari bahwa bayang-bayang berada di bawah telapak kaki nya, ia terlalu congkak dengan melawan mentari di atas kepalanya, "awas panas" kata seorang nenek tua yang ku yakin kakinya lebih kuat tuk berdiri di banding bayi baru lahir itu. Tak ada yang tersisa sebenarnya nenek dan kakek, hanya kacamata buram yang tak bisa untuk bergaya. Sebagian !
Melihat kacamata buram yang tak boleh ditaruh di bawah, karna ia hanya gelap tak terlihat. kosong !

Rabu, 22 Juni 2011

Bu Guru, Sekolah Itu Apa?

Monday, 20 June 2011 19:58 WIB
Bu Guru,  sekolah itu apa sebenarnya? Aku murid kelas 5 SD. Datang pagi setiap hari. Berbaris rapi dan cium tangan hormat sebelum masuk kelas.  Pelajaran pertama  matematika. Mudah sekali. Nilaiku selalu diatas sembilan. Pelajaran kedua Bahasa Indonesia. Ada peribahasa dan latihan membuat paragraf. Sesekali menjadi karangan. Karanganku tidak selalu baik. Setidaknya mendapat nilai tujuh. Pelajaran ketiga  IPA. Aku suka melihat pelangi, dan aku mengerti bagaimana proses terjadinya.  Ah nilaiku tak pernah kurang dari sembilan.  Hari-hari di sekolah, bermain dengan kawan-kawan dikelas secara sembunyi atau di lapangan saat jam istirahat. Atau  saat menunggu jemputan pulang. Tapi apakah sekolah itu? 

Kemaren aku dimarahi ayah karena tidak bisa menjaga adikku sehingga jatuh. Kata ayah “Percuma saja kamu juara kelas kalau mengurusi adik saja tidak bisa”. Ah aku kan anak pintar. Tapi tidak ada pelajaran yang mengajari bagaimana caranya bertanggung jawab menjaga adik kecil yang berusia satu tahun dan baru pandai berjalan. Minggu lalu aku dibilang ibu cengeng. Ayah dan ibu keluar kota bersama adik. Aku tinggal berdua dengan mbak Siti. Sore itu hujan lebat. Mbak Siti ke warung membeli lilin karena lampu mati. Tetapi mbak Siti pergi terlalu lama. Senja semakin gelap. Langit kelam, petir menyambar dan menggelegar. Aku ketakutan dan menangis sendirian. Kata guru anak lelaki harus berani. Berani itu apa? Siapa yang berani dalam situasi gelap senyap begini sendiri. Untung ayah dan ibu segera pulang. Aku menghambur ke pelukan ibu, terisak. Ibu memeluk dan berkata “Duh kenapa anak ibu jadi cengeng begini?”.  Sekolah itu apa sebenarnya Bu Guru? Mengapa aku sudah lima tahun sekolah belum juga berani dalam gelap?

Sebentar lagi liburan kenaikan kelas. Bulan Juli  mendatang aku sudah menjadi murid kelas enam.  Dapatkah aku kembali meraih juara satu seperti biasanya penerimaan rapor? Lalu bisakah  aku lulus SD dengan nilai terbaik tanpa ada huru hara? Tadi malam kulihat di TV kejadian yang sangat mengerikan. Di Surabaya, seorang anak kelas enam SD bernama Alif di demo oleh teman-teman sekolah dan orang-orang sekampung. Gara-garanya Alif tidak mau mengikuti perintah Guru yang menyuruhnya berbuat curang dengan memberikan contekan pada teman-teman pada saat Ujian Akhir Nasional. Alif dan Ibunya serta keluarganya harus mengungsi menghindari amukan masa. Aku sedih. Sekolah itu apa sebenarnya Bu Guru? Mengapa Alif harus dihukum karena ingin jujur dan tidak mau berbuat curang?  

Bu Guru, sekolah itu apa sebenarnya? Kakak kelasku tahun ini di sekolah juga disuruh seperti Alif. Katanya, kalau mau masuk SMP favorit harus punya nilai kelulusan SD yang tinggi. Supaya nilai tinggi harus kerjasama dan perlu bantuan kunci jawaban.  Kata Pak Guru Agama,  Nabi Muhammad SAW diutus kedunia ini pertama kali adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Akhlak utama beliau contohkan adalah kejujuran. Sehingga Nabi SAW digelari Al-Amin. Yang artinya orang yang dapat dipercaya. Tidak suka bohong, tidak licik dan tidak suka curang. Berbohong serta berlaku curang termasuk dosa besar.  Tetapi mengapa di sekolah semuanya serba membingungkan? Di SMP dekat rumahku ada kantin kejujuran. Siswa membeli mengambil barang dan membayar tanpa diawasi. Lalu kenapa saat Ujian Nasional juga diberi kunci jawaban oleh gurunya sendiri?  Apakah jujur itu? Aku semakin tidak mengerti. 

Bu Guru, apakah sekolah itu? Mengapa semakin tinggi sekolah murid-muridnya semakin jahat? Buktinya siswa SMA di dekat komplek rumahku. Kalau malam minggu suka kebut-kebutan dan berisik. Tidak ada polisi yang menangkap. Waktu mereka ngobrol di warung, aku mendengar bahwa mereka sukses Ujian Nasional karena mendapat bocoran soal dari kepala sekolah. Sambil menghirup rokok dan kaki diangkat ke meja mereka tertawa terbahak-bahak mengingat saat kucing-kucingan mengelabui tim pengawas independent. 

Bu Guru, sekolah itu apa sebenarnya. Setiap upacara bendera aku mendengar bahwa sekolah-sekolah Indonesia sedang menggalakkan pendidikan karakter. Karakter itu apa?  Aku semakin tidak mengerti. Aku hanya ingin jadi Ahli Pesawat terbang seperti Pak Habibie. Sekolah ke luar negeri untuk pulang membangun bumi pertiwi. Sekarang aku baru akan naik kelas enam. Aku harus masuk SMP dan SMA  atau sederajat sebelum bisa sekolah ke Jerman untuk menjadi ahli Pesawat terbang. Tapi aku harus sekolah kemana Bu Guru?   Aku ingin menjadi Ahli Pesawat terbang sekaligus menjadi umat kesayangan Nabi. Menjadi anak baik, jujur dan cinta pada kebenaran. Aku ingin kalau nanti aku besar, koruptor sudah tidak ada lagi di muka bumi. Aku ingin negeriku sejahtera dan makmur. Tapi aku harus sekolah kemana Bu Guru?  Katanya sekolah itu tempat membuat orang bodoh menjadi pintar. Merubah orang  menjadi baik. Mengajari menyelesaikan masalah. Dan membimbing seseorang dapat menyiapkan diri meraih cita-cita.  Bu Guru, dimanakah sekolah itu? Masih adakah sekolah itu? Apakah  sekolah itu?


Fauziah Fauzan EL Muhammady
Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang
elmuhammady@ymail.com

Minggu, 19 Juni 2011

Taubat

Dari Bu Nujaid bin Husain Al Khuza'i, dia berkata, "Ada seorang perempuan dari Juhainab datang kepada Rosululloh, sedangkan dia sedang hamil karena berzina dan berkata, Ya Rosululloh, saya telah melakukan kesalahan dan saya harus dihukum. Maka, laksanakanlah hukuman bagi diri saya, kemudian Nabi memanggil wali nya (perempuan itu) seraya bersabda, Perlakukanlah baik-baik perempuan ini, apabila sudah melahirkan bawalah kemari. Maka perintah itu pun dilaksanakan oleh wali nya. Kemudian setelah wanita itu melahirkan, dibawalah ia ke hadapan Rosululloh dan beliau memerintahkan kepada perempuan itu untuk mengencangkan pakaiannya dan dirajam, kemudian beliau mensholatinya. Umar berkata kepada Rosululloh, Mengapa engkau nensholatinya ya Rosululloh, bukan kah dia berzina?, Beliau bersabda, Dia telah benar-benar bertaubat dan seandainya taubatnya dibagi pada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya masih cukup. Pernahkah kamu mendapatkan orang yang lebih utama daripada seseorang yang telah menyerahkan diri sepenuh nya kepada Alloh Yang Mahakuasa lagi Mahaagung ?"
(HR.Muslim)
Kitab Riyadhus Shalihin hadist ke 23 Bab 2 "Taubat"

Sabtu, 21 Mei 2011

Dimas, Adik Kecilku

Hari ini, 21 Mei 2011
Pulang sekolah nya ba'da isya sih, tapi karna mampir ke suatu tempat dulu nyampe rumah jam 8an deh.
Nyampe rumah seperti biasa, ketuk pintu dan salam dulu.
"Assalamualaykum"
Dari dalam rumah pun juga terdengar jawaban salam
"wa alaykum salam"
Wah, ini suara tante ku ki, brarti adik sepupuku datang.
Pintu garasi di buka.
Dari dalam terlihat adik ku itu dengan tante ku itu.
Dimas nama nya.
Alhamdulillah sudah bisa berjalan.
Tapi baru bisa berceloteh.
Tapi ya sebagaimana biasanya adik kecil, justru celotehannya lah yang bikin lucu dan mampu membuat kita tersenyum sendiri.
Sempat senyum lama, karna celotehannya tadi terdengar seperti panggilan buatku.
"abang" seperti itu kurang lebih tadi terdengar di telingaku.
Ternyata kelucuannya tidak hanya sampai situ.
Sampai di rumah, seperti biasa alhamdulillah ada jajanan di atas meja makan.
Dan jajanan kali ini adalah kue pukis.
Aku ambil dua buah. hehe
Ya kan beda warna soal nya, yang satu coklat yang satu  nya ijo.. hehe
Eh, ternyata warna ijo nya pukis itu menarik hati adik sepupu ku ini.
Akhirnya aku makan berdua dengan adikku di tangga sebagai dudukan nya..
so sweet ki.. :D
Dan terjadi sesuatu yang menurutku bikin aku malu banget ki.
Seperti hal nya kebanyakan anak2 usia 1-2 tahunan, mereka masih agak belepotan dengan makanan mereka..
Dan kue pukis yang dimakan adik ku pun jatuh sebagian.
Adek ku yang melihat itu pun mengambil kue pukis nya itu.
Aku yang melihatnya mengambil kue pukis yang jatuh itu agar tidak dimakan oleh adik ku.
Dan (bodoh e aku), aku ngebuang pukis itu sak penak e di deketku alias ngembaliin kue itu jatuh lagi di lantai.
Adik ku yang kecil ini yang melihatnya mengambil kue itu, dan aku melakukan hal yang sama lagi, mengambil kue itu dan berniat membuang nya.
Eh pas mau buang dia terlihat tidak terima dengan berceloteh yang aneh, lantas aku tetap membuat alias mengembalikan kue itu ke tempatnya seula saat jatuh tadi.
Adik ku yang melihat itu dengan cepat mengambil nya dan memakannya.
Aku semula berniat mengambil nya (bahkan tangan ku hampir masuk mulutnya), tapi niat itu nggak jadi.
Dan aku malah berpikir mendapat sesuatu yang berharga dari adikku yang luar biasa ini.
Subhanalloh :)

Rabu, 18 Mei 2011

Lautan Embun itu Bernama Syukur

Hariku begitu luar biasa setiap harinya..
Begitu banyak hal yang membuatku merasa betah tuk terus bernafas..
Meski bukan lantas aku takut tuk mati..
Namun dengan melihat sekeliling ku saat ini sungguh membuatku tak pernah bosan tuk menjalaninya..
Yang kulihat bukanlah tak ada nya mobil di rumahku..
Yang kulihat bukanlah kumpulan-kumpulan baju baru yang memang tak ku miliki..
Yang kulihat bukanlah berlembar-lembar uang yang memang sekarang-sekarang ini jarang mengisi dompetku..
Yang kulihat jauh dari itu semua..
Jauh dari yang disebut orang sebagai materi..
Kehidupanku saat ini sungguh sebuah rasa syukur yang hebat bagiku..
Terbangun tidurku karna seakan-akan ada belaian dariNYA agar aku tak pernah lupa tuk mengawali hari dengan bersujud kepadanya di kala orang banyak lebih memilih tuk tidur di peraduannya..
Aktifitas pagi yang dikelilingi oleh keluarga yang begitu kusayangi..
Keluarga yang aku rasa memiliki cara nya tersendiri tuk menunjukkan kasih sayang mereka..
Papa yang selalu setia dengan tausyiah-tausyiah nya..
Mama yang selalu siap untuk membantu anak-anak nya..
Abang yang aneh tapi begitu luar biasa bagiku..
Kakak yang terkesan begitu misterius tetapi ternyata memang tak ada dua nya..
Adik yang sepintas bikin emosi tetapi emang dah wajah polos nya mengingatkanku bahwa manusia itu memiliki fitroh suci..
Berangkat ke sekolah..
Dalam perjalanan tak bisa ku hanya fokus di jalan..
Terlalu banyak yang menyusup dalam pikiranku ini..
Memang dunia ini tidak menyisakan tempat lagi tuk manusia agar ia tak mampu melihat keagungan Tuhannya..
Ketika melalui itu teringat akan sebuah kata yang mungkin sudah tak asing lagi buat kita..
"Ketika engkau berhadapan pada dunia, masih banyak yang lebih kurang beruntung daripada kita, maka bersyukurlah sahabat. Dan ketika kita berhadapan pada akhirat, masih banyak yang lebih mulia daripada kita, maka bersungguh-sungguhlah kawan"
Melihat butiran-butiran halal itu menetes demi sesuap nasi..
Melihat senyum itu mengembang di kala membayangkan wajah senang buah hati ketika ia pulang membawa rejeki..
Alhamdulillah..
Kata itu sahabat yang keluar dari mulut mereka ketika pernah iseng aku bertanya..
"Bu, maaf, kalo jualan seperti ini bisa untuk kehidupan sehari-hari ya mbak ?"
"Ya Alhamdlulillah mas," jawab pejuang mulia itu dengan senyum yang membuatku merasa tak pantas untuk tidak bersyukur saat ini..
Tampilkan cermin diri di hadapan mu Luthfi..
Lihat sosok yang hampir gendut itu !
Memakai kacamata yang harga nya mampu untuk mereka bertahan hidup selama sebulan !
Memakai pakaian yang mungkin sering kau bertanya mengapa tidak ganti-ganti..
Padahal mereka ada yang jangan kan ganti, punya pun tidak !
Sekarang HP mu rusak kan ?
Bagaimana rasa nya Luthfi ?
Bisakah engkau hidup tanpa menggunakan alat komunikasi itu ?
Ya.. Terlalu banyak yang harus aku syukuri..
Lihat sekelilingmu..
Ada banyak sekali ikhwan dan akhwat yang terikat oleh mu dengan tali ukhuwah..
Lihat ! Seberapa sering kamu mengecewakan mereka Luthfi !
LIAT !
LIAT lah wahai insan yang masih diberi mata, hati, dan telinga !
Maaf, tetapi rasa syukur ini begitu besar sekarang bagiku..
Mungkin dulu aku pernah khilaf..
Tapi tolong jangan jadikan perbuatan ku itu hujjah bagi mu agar kau mampu menyebut namaku ketika kau salah..
"luthfi aja kayak gitu !"
Maaf, aku juga sering khilaf kawan..
Maaf..
Rasa syukur ini kembali mendekap ku..
Mengusir segala keraguan akan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil..
Aku takut begitu banyak syukur yang aku dustakan..
Aku takut kawan jika syukur ini dicabut dari ku..
maka tak berlebihan jika dari lisan ini kan selalu terucap..
ALHAMDULILLAH :)

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

d"Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS, 55:55)“r

Kamis, 07 April 2011

Aku tak tahu lagi
Apa yang sebaik nya tertulis
Karna aku sudah merasa jatuh
Jatuh dalam pemikiran sendiri
dan bayang-bayang kalian yang telah menutupiku
Apakah ini memang sudah saat nya ?
Kopi itu telah tumpah, tlah keluar dari tempatnya, ada banyak kemungkinan yang menyebabkan hal itu..
Tempat nya yang kekecilan
Atau kopi itu yang kebesaran
Atau memang kopi itu tidak pada tempatnya
Atau itu bukan kopi
Atau itu bukan tempat
Atau kau munculkan kehangatan saja lah
Karna ia sekarang tlah menghilang 
lenyap
Agar ketika ia muncul
maka ia akan ada
KOPI HANGAT
sekedar syarat
yang riskan tuk berkarat
berkarat nikmat
atau sesat
namun pekat

Jumat, 11 Maret 2011

Kopi Hangat Pelepas Penat

Terkadang kita kecewa
Lantas kita pun berkata 
"Wah tak ada pelajaran apapun yang ku dapat"
Namun sedikit saja kita mau melihat LEBIH maka kita kan merasakan sesak 
Sesak karna berhimpitan terus dengan ilmu dan pelajaran
Bahkan bisa dikata 
"Tiap hembusan nafas kita, terdapat banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan" 
Ya bahkan sembari meminum kopi hangat pelepas penat :)

Pasir Putih Bangunan Pekerja

"Melihat tumpukan pasir hitam itu di sana
 Terasa diseluruh tubuh karna kubermandikan olehnya
 Tenggelam di dalamnya dan sesak oleh udara bebas,
 Sudahlah jangan terlalu lama berendam,
 Toh aku pun bangga menjadi seorang pekerja bangunan,
 Di peraduan pasir-pasir hitam,
 Di atas peluh layaknya seorang pekerja,
 Ya pasir-pasir hitam berwarna putih syahdu mencekam nan indah
 Cukup suguhkan kopi hangat terasin untukku sekarang"
 ~Hanya catatan si pasir kokoh terlemah bersama paradoks kopi hangat terlupakan~

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepadaAllah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang    yang musyrik". 
( QS. Yusuf 12:108 )