Kebaikan itu selalu INDAH

Kebaikan itu selalu INDAH
Teladan, tempatku kini dan apa yang kan kuperbuat nanti.. Walau menurutku apa yang kan terjadi itu semua masih misteri tapi tak kan pernah menyurutkan semangatku untuk berusaha yang sebaik mungkin.. Dan Atas ijinNYA, aku yakin bahwa Alloh memiliki rencana yang jauh lebih INDAH daripada apa yang aku, makhlukNYA rencanakan.. Bismillah, Dengan menyebut nama ALLOH, kulangkahkan kaki ini, agar aku tak kan hanya berdiam diri :)
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2011

Tidak Peka ?

Menulis itu mencerminkan hati melalui tulisan (sekarang bukan pena je :D )
Nah, aku mau nulis ki, sekarang cerita tentang pasangan yang sudah menikah.
Don't look this story from the writer, but just read this story!
Maklum writer nya belum nikah je. haha :D
Nah ini mau cerita antar obrolan aja sih, antar dua insan Pria dan Wanita, eh tak ganti aja ya Ikhwan dan akhwat
Sifat mereka tidak sama, ah itu mah biasa, tetapi ternyata sifat mereka itu bagaikan api dan air, berbeda dan berlawanan.
Ikhwan sering bersifat RDB alias Ra dong Blas, ya tidak peka tentang akhwat atau bahasa gaul nya kagak romantis. haha
Sedang Akwat bersikap ingin agar sang Suami  (Ehm, yang belum berumah tangga pasti mak jleger denger kata ini :P) bisa bersifat romantis dengannya sehingga ia sering memancing sang suami. Di sini ada 3 Crita yang akan aku ceritakan, sebelum nya ini menyunting dari cerita sesungguhnya tapi tak perlu membahas siapa nya agar bisa ngambil hikmah nya aja bukan nggibah :D
Akhwat ini bingung, kenapa Ikhwan yang satu ini begitu lugu akut, maka nya dia mencoba memancing sang ikhwan agar bersikap romantis pada nya (Maklum memanjakan pasangannya baik suami atau isteri itu dituntunkan lho sebagai bunga-bunga indah pernikahan), pengen deh kayak crita Ali dan fatimah.
Pernah suatu waktu fatimah berkata pada Ali,
"Suamiku... Sebelum menikah denganmu, aku pernah sangat menyukai seorang laki-laki dan aku sangat ingin menikah dengannya." Berubah rona wajah Ali mendengar kalimat ini. Cemburu, penasaran campur aduk jadi satu. Tapi tetap dengan kelembutan dan perasaannya yang halus dia berkata, "Apakah engkau menyesal menikah dengan ku?" Fatimah tersenyum geli melihat ekspresi sang suami. " Tidak," ucapnya. " Karna lelaki itu adalah... Engkau", Subhanalloh sungguh indah kejadian Putri dari Rosullulloh dan Khalifah keempat itu.
Maka dengan modal rencana, Si Akhwat tadi menghampiri suaminya, "Suami ku, kalau aku mau es kelapa, maka apa yang kamu lakukan?" tanya sang Isteri pad Suami nya, Suaminya itu sempat bingung, namun dengan polos nya dan mempertimbangkan keadaan dompet (maklum tanggal tua), sang suami menjawab, "Waduh, aku nggak ada uang e, afwan ya," Pupuslah kisah romantis diantara mereka berdua. Padahal kata-kata yang ada dalam benak nya bukanlah yang seperti itu, "Aku akan membiarkan mu tidur dalam kamar kita," Lalu sang Isteri membayangkan ia berwajah bingung, lalu sang suami tersenyum "Biar engkau tidak melihat betapa konyol nya aku saat mengambil kelapa di kebun kita itu, betapa payahnya aku ketika mengupasnya, dan kau hanya tahu ketika aku membawa kelapa itu ke kamar mu sehingga kamu tidak sadar bahwa suami mu ini tidak ada uang untuk membelinya," dan suami tertawa nakal. tapi itu hanya angan bagi sang isteri.
Sang isteri tetap tidak pantang menyerah, kali ini pancingannya sudah agak menjurus, pasti ia terpancing, "Suamiku, menurutmu bagaimana mencintai? itu" sang suami terkaget dan menjawab, "ya mencintai itu berarti menyatakan cinta, banyak og definisi nya, coba aja buka kamus, buata apa e ? Ngerjain tugas po ?", rasa nya seperti mendengar piring pecah atau memang tetangga ada yang memecahkan piring, ah mbohlah. padahal bukan sperti ini kisah nya.
seharusnya sang suami berkata, "Seharusnya kamu tanyakan pada diri mu sendiri," Kata suami ku sambil tersenyum, "Kok bisa ?" tanyaku heran, "karna aku mencintai mu sama dengan kamu mencintaiku, cinta karna Alloh ini telah membuat 2 cinta terlihat 1 bukan 1 cinta terlihat 2 bercabang atau berbeda, karna cinta kita sejalan beriringan, jadi kalo kamu tanya bagaimana cara ku mencintai mu, ya sebagaimana dirimu mencintaiku" Ahhh..... GAGAl lagi. Mangkel mulai terlihat.
Jangan menyerah dah, sekarang akan aku coba cara lain..
Sang akhwat berpikir "Aku akan mencoba mengajak nya makan di luar. Aku tahu dia paling anti makan di rumah, karna ia berpikir memang paling hemat makan di rumah. Akhirnya aku mancing dia dan kali ini pasti berhasil."
"Suami ku, kita makan di luar yuk, aku wis yang bayari make uang simpanan ku, gimana ?" tanya ku menggoda, sejenak ia berpikir dan ku merasa bahwa aku akan menang, "Beneran nih? Asyik dah, Ayo isteriku, kita berangkat," kata suamiku lagi-lagi dengan polosnya..
"AAAAAAAAA... Aku bener-bener bunek nih, sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil mendengar murotal dari CD player di mobil ini. Suamiku pun sibuk menyetir, entah aku udah males atau gimana, aku acuh tak acuh aja deh bahkan ketika ia berhenti di suatu tempat, dan akhirnya sampailah di suatu rumah makan. "What?" pikirku, inikan rumah makan yang terkenal romance, cocok buat pasangan yang baru menikah dan yang bikin kaget MAHAL! Apakah suamiku bener-bener nggak perhatian ma aku."
Sang Suami pun memesankan dua porsi yang sama yang itu sudah menjadi kebiasaan mereka untuk makan dan minum yang sama. mereka memilih tempat duduk dan Menunggu sambil ngliat pemandangan yang bener-bener indah sekali, dan ngobrol tentang beberapa hal.
Akhirnya makananpun datang dan sang isteri tertohok, makanan itu lezat sekali tapi yang pasti MEWAH! "Bagaimana ini, waaaaa, aku bener-bener bingung". sang Suami tampak lahap memakan makanan ini sedangkan aku canggung meski sang isteri mengakui makanan ini sangat lezat dan menggugah nafsu makan. mereka makan kurang lebih 10 menit.
Waaaah, akhirnya sampailah pada saat bayar membayar, dan benar saja, habis dengan jumlah yang besar, aduh bagaimana ini. Tetapi yang aneh nya, pelayan itu tidak menagih kepada kami namun malah mengucapkan "selamat jalan, terimakasih sudah menyantap masakan kami" kemudian tersenyum ramah. "Ada apa ini?" pikir sang isteri dan mereka pun naik dalam mobil lagi, dan aku memberanikan bertanya, "Suamiku, kenapa tadi kita tidak membayar?" tanya sang isteri polos, suami tertawa geli "Mana mungkin ada yang jualan tapi tidak dibatyar sayangku,", "Lha trus kenapa kita tidak bayar?" tanya sang isteri lagi "Isteri ku, biarlah aku yang membayarnya, bukankah aku pemimpin dari mahligai cinta kita ini, biarlah tak perlu melihat keluarnya uang, tetapi melihat bagaimana aku sedang menabung rasa cinta, memupuk rasa sayang dan mencoba menyemai nya. Sayang, aku tahu selama ini engkau ingin aku bersikap romantis, tapi aku memang begini, tidak terlalu peka, aku ingin memberikan cintaku tiap hari tapi beda rasa, dengan romantis, dengan cembur, dengan cerita, dengan hubungan kita dan dengan rasa-rasa yang lain yang menambah rasa sayang ini, Satu yang tak perlu kau pikirkan, bahwa aku pasti menyayangi mu kok" kata sang suami begitu lembut dan tersenyum pada sang istri.
"Perjalanan pernikahan kita ini akan menemui ujung cinta terindah dalam dekapanNYA." Sambil memeluk sang isteri dan melaju pulang.

HAHAHAHA
Kisahnya bikin galau ga' tuh ?
Bro, sist, jangan takut deh nggak dapet jodoh
Karna tulang rusuk tak pernah tertukar katanya Adnan
Karna Suami yang baik akan mendapatkan isteri yang baik pula
karna Tiap insan sudah mendapatkan pasangannya juga.
Nggak perlu cari jauh-jauh dari sekarang deh
Jatuhnya malah ntar maksiat
Yang penting Pantaskan diri
Jadi insan yang terbaik untuk pasangan kita
Karna sifat berbeda bukan alasan tuk tak bersama
Karna sifat berbeda bukan tuk perpecahan tetapi tuk pelengkap indahnya kehidupan
Kalau memang sudah menemukan dan sudah siap, ayo segerkan mengindahkan cinta, jangan dirusak
Segera menikah dan putihkan makna cinta
bagi yang belum siap, berpuasalah, menahan diri dari yang dapat menjerumuskan ke arah Zina
Ucapkan selamat datang kepada isteri kita
"Engkaulah wanita pertama dalam dekapanku Isteriku"
MAU?
Ini tadi niatnya yang tak maksud buat obat sih, karna kamu tadi dimarahin jadi buat obat biar senyum.
Pokoknya tetap "UFO KECEMPLUNG COKLAT" :))

Segala puji bagi Alloh Yang Maha Pengasih, Sang Pembuat Cinta, Rabb yang cinta kita yang haq adalah untukNYA
Untuk setiap cinta yang kurasa
Untuk Kedua orangtua ku
Untuk keluarga ku
Untuk engkau sayangku
dan Untuk mu sahabat-sahabat ku 
:)

Rabu, 22 Juni 2011

Arti kata Pengorbanan ataukah korban ? (part three)

"Astaghfirirulloh. Sahabat ku sedang diuji oleh Mu ya Alloh, apa yang bisa aku perbuat.
Malam ini hamba bersujud di hadapanMu menyandarkan diri hamba yang lemah ini ya Alloh. Diri yang jangankan engkau minta hamba tuk berlari, berjalanpun hamba masih tertatih-tatih ya Alloh. Hamba kurangi waktu tidur hamba ya Alloh agar lebih banyak lagi waktu yang hamba habiskan untuk bermunajat dan mensyukuri tiap rahmat Mu ya Alloh. Ya Alloh, sungguh hamba lah yang senantiasa mendholimi diri hamba sendiri. Ketika Engkau berkata janganlah kau berbuat curang, maka hamba melakukannya. Ketika Engkau melarang hamba tuk menjaga lisan, maka lidah ini bergerak tanpa ada batasan. Astaghfirulloh "
Malam itu, malam pasca berita tentang ketidak lulusan kawanku yang ku dengar dengan telingaku sendiri ini. Aku syok, aku bingung, entah apa yang kawanku satu itu rasakan yang pasti, ia jauh lebih merasa berat tentang hal ini dari pada aku. Saat itu entah kenapa telah habis tiap huruf demi huruf yang kucoba rangkai tuk menghibur kawan ku itu. Entah kata tlah berubah atau lisan enggan tuk bersusah dalam berkata, semua tak ter koordinasi dengan baik. Ketika ku tengah mengingat nya kembali, hanya membuatku merasa sebagai sahabat yang paling tidak berguna di dunia.
Tiba-tiba teringat tentang mimpi ku pagi hari itu. Mimpi yang menjadi permulaan kisah persahabatanku dengan Risa.
Pagi itu, pagi yang cerah. Seharusnya.
Aku terbangun dengan teriakan alarm HP ku. Alarm yang memang sudah aku siapkan agar aku bisa bangun lebih pagi di pagi itu. Pagi itu seharus nya aku berangkat jam 06.30 tetapi ternyata sudah jam 07.00. Orangtuaku saat itu memang sedang di luar kota dan pembantuku tidak mempedulikan ku apakah aku sudah bangun atau belum. Alhasil tidak ada yang membangunkan ku. Bocah tengil kelas 3 SD ini. Maka aku pun bergegas mandi dan ku kayuh sepeda ku tuk berangkat ke sekolah.
"Aku pergi dulu ya mbak !" teriak ku, entah terdengar atau tidak.
memang sudah takdir atau apa, hewan yang paling aku tidak sukai ternyata menghalangi jalan ku. Ya hewan itu adalah ayam. Ayam-ayam itu menutupi jalan ku padahal sepeda ku ku kayuh dengan kecepatan yang cepat (kalo se ukuran anak SD sih). Secara reflek aku rem sepedaku dan hilanglah keseimbanganku sehingga aku terjatuh tepat di dekat ayam-ayam itu. Aku takut, aku terus saja menangis karna ayam-ayam itu tak segera menyingkir. tiba-tiba dari arah ku tadi terdengar suara anak kecil sama seperti ku.
"Awas awas, jangan di tengah jalan !" Teriak anak gadis itu pada ayam-ayam itu. Akhirnya ayam-ayam itu berlari kabur, dan kemudian anak kecil itu memberikan tangan nya kepada ku yang masih menangis.
"Halo, nama ku Risa Ayri, biasa dipanggil risa kalau kamu ?" suara gadis itu lembut sehingga membuatku berhenti menangis seketika.
Aku melihat ke arah muka nya dan ia menyambutku dengan senyuman.
"Na.. na.. maku Muhammad Adnan," jawabku masih terbata-bata setelah menangis.
"Ok Adnan ya ?" kata Risa tenang
"Pokok nya, kalo ada apa-apa kasih tau aja Nan, aku pasti bisa untuk membantumu !" Kata Risa dengan membusungkan dada nya kepada teman baru nya itu
"Makasih ya Sa," jawab ku sembari tangannya aku raih untuk berdiri.
"Ayo cepat, kita dah terlambat lho ini Nan !" kata Risa dengan penuh semangat dan langsung menaiki sepeda nya. Aku pun naik ke atas sepeda ku, Alhamdulillah sepeda nya masih bisa dikendarai. Sejurus kemudian kami telah melaju ke sekolah bersama-sama naik sepeda.
"Aku pasti akan membalas kebaikan mu Risa," kata ku saat kami telah mengayuh sepeda bersama-sama.
"Apa Nan ?" tanya Risa karna memang perkataanku tadi tidak lah begitu jelas.
Aku pun hanya membalas dengan senyuman.
Allohuakbar
Allohuakbar
Suara takbir di masjid dekat rumah ku mengembalikan aku dari ingatan masa kecil ku dulu itu. Ternyata subuh telah menjelang. Saat nya untuk menjawab seruan nya.
Setelah memastikan rumah dalam keadaan terkunci, Aku pun berangkat ke masjid. Saat tengah perjalanan ke Masjid aku berpapasan dengan pak Said yang berprofesi menjadi guru di bimbingan belajar.
"O iya, aku punya ide !" Kataku yang membuat langkah ku lebih bersemangat ke Masjid.
~Bersambung~


Minggu, 19 Juni 2011

Arti kata Pengorbanan ataukah korban ? (part two)

Rasa nya baru beberapa menit yang lalu kekahwatiran ku menguap dari beban pundak ku ini.
Ketika nama ku terpanggil dan dinyatakan lulus dari jenjang SMP di sekolah ini.
Tiba-tiba suara di antara kerumunan itu memanggilku dan membuat beban itu tak jadi menguap, bahkan seperti tengah menutup kemungkinan akan hilang nya kekhawatiran.
"Risa, sebelum nya maaf, Ibu tau kalau Risa itu anak yang pandai. Tapi Ris, nilai-nilai mu akhir-akhir ini membuat banyak orang cemas termasuk lembaga beasiswa sekolah kita. Mereka cemas jika beasiswa ini tidk tepat sasaran karna nilai-nilai mu yang jatuh," kata bu Guru pelan. Mimik muka dari ku pun berubah tegang, bulir-bulir kaca di mata ku mulai terpantulkan sinar matahari.
"Sekarang ibu tanya, Risa masih ingin melanjutkan sekolah dan mendapat beasiswa kan ?" tanya bu Guru dengan lembut kepadaku.
"Iya bu, Risa tidak ingin menambah pikiran orang tua Risa lagi. Biarlah uang yang mereka kumpulkan untuk adik-adik Risa, Risa tidak ingin merepotkan kedua orang tu Risa bu," Jawab ku hingga akhirnya pecahlah bulir-bulir kaca itu dan mengalir butir-butir air mata ku.
"Iya anak ku, tetapi ini sudahlah konsekuensi dari apa yang sudah terjadi. Jadi keputusan kami adalah.." lanjut bu Guru sambil ikut terharu dan merasa tidak enak dengan keadaan ku yang pucat.
"Sekolah akan memberikan mu sertifikat lulus ini, asal nanti di semester pertama ini kamu mampu mendapat nilai yang baik dan mengikuti ujian ulang pada ujian kelulusan ini, kamu paham Risa ?" tanya bu Guru dengan lembut.
"Iya bu, terima kasih" jawab ku disusul dengan pelukan hangat dari bu Guru itu lalu kemudian ia pamit dan meninggalkan ku yang saat itu tengah kebingungan. Kebingungan ini membuatku sesaat lupa bahwa ada sahabatku di sana. Terbesit sebuah pemikiran konyol ku tentang sahabat ku ini dan tidak sengaja pikiran itu pun keluar.
"Seandai nya kamu itu satu angkatan sama aku Nan, mesti kamu bisa ngajarin aku. Tapi kamu baru kelas 3 SMP ding. Aku bingung, jangankan untuk membayar orang mengajari ku, untuk makan apa besok aja aku dah bingung Nan," kata ku terkesan memaksakan diri tuk bercanda namun ternyata memang air mata ku ini tak bisa berhenti mengalir. Keheningan menyelimuti kami, Adnan tidak membalas candaan ku itu, ia hanya terdiam sampai kami terpisah. 
"assalamualaykum Adnan,"
"Wa Alaykum salam Risa," Kami saling berucap salam dan berpisah. Kesedihan ini dan reaksi yang dibuat oleh Adnan membuatku berpikir, "Kenapa ya dia hanya diam saja, apakah dia tidak memikirkanku ? Apakah ia tidak peduli ? Bahkan tadi dia tidak menghiburku," Pertanyaan-pertanyaan ku ini menjadi bunga-bungan hitam yang kubawa hingga tidurku.
"Ahh, Apakah aku mampu menantang sinar matahari esok dengan keadaanku saat ini ?"
~Bersambung~

Sabtu, 18 Juni 2011

Arti kata Pengorbanan ataukah korban ? (part one)

"Pokok nya kalo ada apa-apa kasih tau aja Nan, aku pasti bisa untuk membantu mu !" Kata seorang anak kecil dengan membusungkan dada nya kepada teman nya.
"Makasih ya Sa," jawab temannya sembari tangannya diraih oleh tangan temannya untuk membantunya berdiri dari sepeda yang ia naiki.
"Aku pasti membalas kebaikan mu Risa," kata Adnan dalam hati nya.
Kriiiiing ! Kriiiing ! Kriiiing !
Suara alarm dari HP ku membuyarkan mimpi itu.
"Astaghfirulloh, sekarang sudah jam setengah delapan !" Kataku dalam hati sambil berlari dan menuju kamar mandi. di sana aku hanya membasuh muka nya dan mengganti baju.
"Wah, pokok nya hari ini aku tidak boleh terlambat ! Hari ini begitu istimewa untuk sahabat ku Risa," kataku dalam hati. aku lalu segera mengeluarkan motornya dan tancap gas.
"Bismillah," aku berdoa dan terus mengendarai motorku.
Aku kini berdiri di depan pintu gerbang suatu sekolah. Sekolah ini memiliki SMP dan SMA. Bagi mereka yang dari SMP ingin melanjutkan ke SMA maka akan diberi kemudahan dalam masuk nya, tetapi jika tidak ingin masuk pun tidak apa-apa. Di sekolah ini Risa mendapat beasiswa karna keadaan ekonomi yang belum mampu tuk membiayai biaya pendidikan maka dari itu jika ia ingin melanjutkan SMA ya dia harus melanjutkan SMA di sekolah itu. Sekolah yang berisikan anak-anak yang kata orang memiliki masa depan. Sekolah yang banyak diidamkan-idamkan oleh banyak orang. Tetapi tidak dengan Risa.
"Wah, di sini aku ketinggalan banyak sekali pelajaran Nan. Tidak seperti waktu kita satu SD dulu aku bisa nomor satu terus, lha di sini jangankan nomor satu, dapat sepuluh besar aja dah seneng banget aku Nan,"
cerita Risa kepada ku
"Bahkan sepertinya aku bisa jadi tidak lulus SMP ni Nan, maka nya besok datang ya di pasca ujian dan pelepasan acara ku. Ok Nan ?" pinta nya pada ku, sahabat nya itu.
Adnan pun mengiyakan sehingga ia berada di sini, duduk dan mendengarkan hasil ujian.
satu persatu nama pun dipanggil. Anto, Aryo, banyak nama telah disebut, hingga sampailah pada nama Risa disebut.
"Risa Ayri dinyatakan.." kata wali kelas nya Risa, sempat terhenti karna harus menelan ludah nya. Walau hanya berhenti beberapa detik, namun mampu membuat jantung ku juga ikut berhenti.
"Lulus," Lanjut wali kelas nya tersebut. Aku mendengar hal itu pun bernafas lega karna apa yang ditakutkan Risa tidak terjadi.
"Alhamdulillah," kataku dan Risa seempak dalam hati masing-masing.
Prosesi acara itu pun berakhir. Risa bertemu dengan ku dengan perasaan yang sangat senang.
"Alhamdulillah ! Aku lulus !" Kata Risa sambil berlari ke arah ku, sahabat nya itu
"Iya Ris, selamat ya," kata ku dengan gaya toss jarak jauh, maklum kami bukan lah mahram.
Tiba-tiba ada suara dari kerumunan orang-orang yang menghadiri acara tersebut. Setelah dicari siapa yang memanggil, ternyata beliau adalah wali kelas nya Risa. wali kelas itu segera menghampiri kami berdua.
"Risa, sebelum nya maaf, Ibu tau kalau Risa itu anak yang pandai. Tapi Ris, nilai-nilai mu akhir-akhir ini membuat banyak orang cemas termasuk lembaga beasiswa sekolah kita. Mereka cemas jika beasiswa ini tidk tepat sasaran karna nilai-nilai mu yang jatuh," kata bu Guru pelan. Mimik muka dari Risa dan aku pun berubah tegang, terutama Risa, tampak bulir-bulir kaca di mata nya.
"Sekarang ibu tanya, Risa masih ingin melanjutkan sekolah dan mendapat beasiswa kan ?" tanya bu Guru dengan lembut.
"Iya bu, Risa tidak ingin menambah pikiran orang tua Risa lagi. Biarlah uang yang mereka kumpulkan untuk adik-adik Risa, Risa tidak ingin merepotkan kedua orang tu Risa bu," Jawab risa hingga pecahlah semua rasa tadi dan mengalir butir-butir air mata tersebut.
"Iya anak ku, tetapi ini sudahlah konsekuensi dari apa yang sudah terjadi. Jadi keputusan kami adalah.." lanjut bu Guru sambil ikut terharu juga melihat keadaan Risa ini. Aku pun ikut pucat dan bingung.
"Bagaimana ini, apa yang akan terjadi pada sahabatku ?"
~Bersambung~

Selasa, 17 Mei 2011

CERMIN DIRI eps 4 (last episode)

Pagi hari nya, pagi hari yang baru bagi Alfian. Dia telah bertekad untuk mengucapkan maaf dan terima kasih pada Hafitsah atas apa yang sudah terjadi. Dia telah bertekad bahwa dia akan menjadi insan yang baru. Dan dia langsung berpikir bahwa kesalahan yang pertama yang harus ia luruskan adalah kesalahannya dengan Hafitsah dulu. 
Sepeda motor kesayangannya itu ternyata masih belum bisa digunakan, maka ia terpaksa berjalan kaki lagi dan kemudian naik bis kota. Perjalanan yang panas dan cukup melelahkan tak ia hiraukan. Perjalanan ini sangat melelahkan karna jarak dari halte Trans Jgja ke rumah Hafitsah begitu jauh dan sangat sedikit pohon yang mampu menjadi payung dalam panas nya matahari. Mungkin hanya niat dan tekad nya lah yang mampu meredam rasa panas itu. 
Akhirnya dia telah tiba di rumah Hafitsah. Rumah berwarna merah jambu, karna memang Hafitsah adalah anak perempuan yang pertama sekaligus yang terakhir, alias anak tunggal sehingga apapun yang dia inginkan selalu dipenuhi termasuk warna cat temboh rumahnya. 
"Assalamualaykum" salam Alfian sambil mengetuk pintu. Alfian mengulangi salam itu sampai tigakali, tetapi ternyata Hafitsah yang sudah terlanjur benci pada Alfian tidak mau menemui nya bahkan pintu rumah Hafitsah itu tidak tebuka lagi untuk Alfian. Alfian awal nya kecewa namun Alfian yang sudah memperkirakan hal itu pun lantas menaruh sepucuk surat untuk  nya di depan pintu. Sambil keluar dari pintu rumah nya Alfian berkata, "Maaf Hafitsah atas apa yang telah terjadi tetapi terima kasih karna berkat kamu juga maka aku bisa berubah. Dan selamat tinggal Hafitsah," Kata Alfian tersenyum dan siap melalui hari nya, namun memang ternyata Alloh memiliki kehendak lain. Ketika ia hendak menuju ke halte Trans Jogja, ada motor yang melaju kencang dan menabraknya hingga membuatnya terbang sejauh 10 meter, darah segar keluar dari kepalanya dan dia meninggal seketika sambil terlihat senyum di mulut nya setelah mengucap akhirul kalam "laa illahaillalloh muhammadurrosullulloh,"
Setelah melihat situasi bahwa Alfian sudah tidak ada di depan rumah nya itu, maka Hafitsah membuka pintu rumah nya untuk sekedar memastikan bahwa Alfian sudah pergi jauh dari rumahnya. Alangkah terkejutnya ketika ia menemukan secarik kertas. Lalu secarik kertas itu ia bawa masuk dan ia letakkan di meja kamarnya. "Ah nanti biar tak baca setelah mandi dan beres-beres rumah ah," pikir Hafitsah.
Setelah semua urusan beres, Hafitsah lantas teringat akan surat yang tadi ia letakkan di atas meja nya, ia raih kertas itu dan dia membaca nya dengan penuh seksama. Ekspresi Hafitsah pun berubah dari yang enggan tuk membaca menjadi begitu terharu akan surat itu. "Apakah ini benar-benar surat yang ditulis Alfian yang dulu ia kenal ?" Tanya Hafitsah dalam hati.
Tiba-tiba suara ring tone terdengar dari HP milik Hafitsah dan pada display layar nya tertulis nama Bu Harjo, nama dari bunda Alfian. "Halo Assalamualaykum," angkat Hafitsah dengan suara lembut nya seperti biasa meski ada tanya mengapa ibunda dari Alfian menghubunginya.
"Wa alaykum salam nak, ibu mau ngasih kabar, Alfian, Alfian," jawab ibunda Alfian dengan terbata-bata dan terdengar meredam tangisnya. Hafitsah yang mendengar suara ibunda Alfian langsung diselimuti perasaan cemas yang membuat keringat dingin nya keluar.
"Ada apa bu dengan Alfian ?" tanya Hafitsah panik
"Alfian sudah meninggal dunia nak." tangis ibunda Alfian pun pecah disusul dengan membeku nya hafitsah tak berdaya seakan-akan semua nya menjadi lemah dan tak berdaya.
"Nanti dia akan dimakamkan Jam 2 siang di pemakaman umum Wonocatur nak, udah ya tolong ikhlaskan kalo Alfian punya banyak kesalahan dengan kamu, saya tahu kamu marah sama anak saya tapi tolong ikhlaskan ya nak segala kesalahan anak saya, sudah dulu nak assalamualaykum," lanjut ibunya masih terisak-isak Betapa kagetnya Hafitsah mendegar hal itu di dalam kamarnya. Sekarang dia hanya bisa memandangi sepucuk surat yang kini ada dalam gengamannya. Sepucuk surat terakhir dari Alfian. Yang kini hanya bisa ia baca isi surat itu tanpa bisa lagi melihat si penulis surat itu, suara Alfian yang tengah berbicara melalui surat itu pun terngiang dalam pikirannya.
Assalamualaykum wa Rohmatullohi wa Barokatuh
Untuk seorang permaisuri surga
Untuk permata dunia yang paling indah
Untuk sosok yang tak kenal lelah
Hafitsah
Mungkin jika surat ini ada dalam genggaman mu, Hafitsah. Ini adalah tanda bahwa engkau telah menutup mati pintu hati mu untuk ku Hafitsah. Engkau pasti membenciku atas apa yang telah aku lakukan dulu kepadamu. Aku yang telah membawamu dari fitrah kita sebagai manusia menuju ke jalan yang tak bisa dibedakan mana manusia dan mana yang bukan manusia. Aku yang telah jauh dari Tuhan Yang Menciptakan kita. Alloh Azza wa Jalla Maka tak kan heran jika engkau masih membenci ku Hafitsah. Namun satu hal yang ingin agar kau tahu Hafitsah, aku tidak akan bisa membencimu bahkan jika aku ingin membencimu. Karna aku pernah mendengar sebuah nasihat padaku bahwasanya "Seorang lelaki tidak akan bisa membenci seorang wanita yang baik karna ketika kita membenci satu perangai nya maka akan banyak perangainya yang lain yang akan lelaki itu sukai". Ya lelaki itu adalah aku, dan wanita baik itu adalah kamu Hafitsah. Maka dari itu Hafitsah, ijinkan saya meminta maaf kepadamu dan mengucapkan terima kasih, karna berkat mu juga lah, aku bisa hijrah dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang, dari yang penuh kehinaan menuju jalan yang penuh ketentraman dalam dekapan NYA. Semoga Alloh mempertemukan aku dan engkau di surga NYA kelak, jika tak bisa sebagai pendamping hidupku, semoga bisa sebagai sahabat sejati, sahabat  yang diikat atas dasar ukhuwah dan cinta karna Alloh, karna memang cinta karnaNYA lah yang kan mendasari tiap langkah demi langkah kaki kita dan tiap tarikan serta hembusan nafas kita yang lemah ini. Akhirul Kalam. Wahai Hafitsah, sekarang aku pun masih ingin mengucap bahwa "aku mencintai mu karna Alloh".
                                    Dari insan yang tak pernah luput dari dosa
                                    Dari insan yang hijrah
                                    Dari insan yang menghambakan diri pada Tuhannya
                                    Alfian
            Hafitsah hanya bisa menangis dalam sepi. Menangisi bahwa ia telah kehilangan sosok pemuda. Sosok idaman Hafitsah yang tak akan ia tolak tuk menjadi pendamping dalam hidupnya di dunia dan di akhirat.


Di tengah hiruk pikuknya jaman-Yogyakarta-Mei 2011

CERMIN DIRI eps 3

Bulan dan bintang telah menandakan datang nya malam dan lampu-lampu rumah yang telah padam satu-persatu itu menandakan bahwa malam telah sampai pada saat manusia sebagian besar memilih tuk memenuhi panggilan peraduannya yang memang lebih menyenangkan bagi kebanyakan manusia itu. Tetapi seruan peraduan yang menarik banyak orang itu tidak lah berlaku pada Alfian. Malam itu ia bersujud menghambakan dirinya pada Alloh dalam sholat nya. Ia saat ini benar-benar merasa malu di hadapan Tuhannya karna kebodohan yang telah ia lakukan sampai saat ini. Di sebuah musholla kecil itu ia bersujud sendiri dalam dekapan Illahi yang membawa bulir-bulir air mata itu tak kuasa tertahan untuk tidak tertumpahkan sebagai ihwal awal bahwa ia benar-benar merasa lemah dan tak berdaya di hadapan Alloh Yang Maha Kuasa itu.
Di tengah ia berdzikir, tampak sosok seorang pemuda yang datang dan kemudian melaksanakan sholat. Pemuda itu tampak bercahaya dan pakaian nya yang berwarna serba putih yang tersinari oleh cahaya bulan yang saat itu memang sedang penuh menambah ketertarikan Alfian untuk mencari tahu tentang siapa pria itu. Namun entah kenapa ia tidak mampu melihat rupa dari pemuda itu. Akhirnya, karena tak ingin menyianyiakan waktu Alfian lebih memilih tuk kembali khusyuk dalam ibadah malam nya tersebut.
"Ya Alloh, hamba takut, apabila dosa hamba yang sekian banyak ini tidak lah dapat engkau hapuskan. Hamba yang benar-benar telah mabuk akan dunia, hamba yang jarang membanggakan orang tua, hamba yang ahli maksiat ini ya Alloh. Terlampau banyak dosa ini ya Alloh. Hamba pun bingung dengan nanti reaksi dari teman-teman hamba, yang mampu menggoyahkan keyakinan hamba ini ya Alloh !" Doa Alfian dalam isak tangis nya. Dengan masih terbata-bata ia melanjutkan doanya "Yaa Muqollibal Quluub, Tsabbit qalbiy 'alaa diinika, Wahai Dzat Yang Mampu Membolak-balikkan Hatiku ini, tetapkanlah hati ku ini terhadap agama mu Ya Alloh," doa Alfian yang membuat semakin deras lah air mata nya yang kini tumpah di pipi nya itu.
Setiap detik berlalu berganti menit, menit telah bersatu menjadi jam hingga akhirnya tak terasa waktu sudah menunjukkan waktu subuh. Dan di dalam musholla itu masih hanya mereka berdua yang ada. Pemuda itu tiba-tiba menyerukan azan subuh yang begitu indah, yang membuat tubuh ini terasa malu jika sampai tak memenuhi seruan Alloh itu untuk sholat. Pasca pemuda itu selesai azan ia mendatangi Alfian yang hendak berdiri untuk sholat rawatib.
"Assalamualaykum" salam pemuda itu kepada Alfian.
"Wa alaykum salam" jawab Alfian, kemudian pemuda itu diam sebentar dan berkata,
"Sahabatku, betapa senang hatiku melihat dirimu telah memilih tuk menjadi insan yang lebih baik seperti saat ini. Sahabatku, jangan pernah takut tuk menjadi insan yang menghambakan dirinya pada Alloh. Inilah sosok Alfian yang sebenarnya, ini bukanlah sesuatu yang nantinya orang kan berkata bahwa ini bukan sosok mu Alfian, atau bahkan kau akan dibilang munafik atas perubahan mu ini Alfian. Tetapi berkata lah, berkatalah dengan penuh keyakinan Alfian ! Bahwa inilah aku ! Alfian yang telah kembali pada fitrahnya sebagai hamba Alloh yang menegakkan kebaikan dan mencegah pada hal yang bathil ! Kamu pasti bisa kawan ! Kamu pasti bisa ! Bukankah Alloh telah berfirman Katakanlah bahwa inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan Hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik !" Kata pemuda itu dengan penuh kesabaran yang mampu menentramkan hati seraya meninggalkan masjid. Alfian yang dari tadi mendengarkan kemudian berlari mengejar pemuda itu, "Berhenti siapa kamu sebenarnya ?" Tanya Alfian. Pemuda itu memalingkan wajah nya dan ternyata kali ini Alfian dapat melihat wajah pemuda itu. Alfian terkejut dengan apa yang ia lihat. "Alfian, aku adalah akhlak mu, aku datang berwujud sebagai akhlak dan hati mu Alfian. Pertama aku datang padamu dalam keadaan tak ada atau mati karna hati mu saat itu tengah mati, kemudian aku datang pada mu dalam keadaan sebagai kakek tua yang buruk rupa karna akhlak dan hati mu telah mulai hidup namun masih bobrok dan sekarat hingga hampir membunuh dirimu sendiri. Kemudian aku muncul masih dalam keadaan kakek tapi sudah terlihat bersih karna di situ engkau sudah mulai bertekad dan berbenah Alfian. Dan sekarang saksikanlah hatimu dan akhlak mu ini, karna engkau telah hijrah, dari dunia yang memabukkan menuju dunia yang mampu menentramkan tiap kalbu manusia, saksikanlah wahai Alfian sahabatku bahwa Rosullulloh pernah bersabda bahwa nantinya kita kan dipertemukan di alam kubur, sebagai sahabat mu yang menemanimu hingga hari kiamat tiba. Alfian aku hanya serpihan cermin diri mu sobat. Alfian sahabatku sampai bertemu lagi di hari saat mulut dikunci itu dan aku lah yang akan membela mu dan menjadi juru bicara mu. Semoga saat itu tiba, kebaikan lah yang kan aku ucapkan Alfian, tangan yang kau gunakan tuk memberi, mulut yang kau gunakan tuk berkata jujur dan dzikir, mata yang kau gunakan tuk melihat kebaikan, hati dan pikiran yang terus kau isi dengan nama NYA," kata sosok pemuda itu yang ternyata memiliki rupa persis dengan Alfian. Tiba-tiba menghilang. Alfian tersadar dan entah bagaimana sekarang dia telah tersadar dalam keadaan memegang microphone. "Subhanalloh" ucap nya penuh haru saat itu.
BERSAMBUNG

CERMIN DIRI eps 2

Karena ninja 200cc yang ia bangga-bangga kan sedang rusak setelah ia gunakan untuk balapan liar dengan teman-teman se gank nya, maka hari ini dia harus rela pulang dengan menggunakan bis kota. Di dalam bis itu ia masih saja terus memikirkan kejadian yang menimpanya ini hingga tak sadar telah sampailah ia di jalan yang semesti nya ia telah turun. meski sudah teratur nafas nya, tapi rasa nya denyut jantung nya belum bisa ia atur karna kejadian hari ini begitu mengejutkan bagi nya.
"Pak ! Pak ! Kiri pak ! Kiri !" teriak Alfian yang terlihat kaget itu. Ternyata bis sudah terlanjur melaju melewati tempat yang seharusnya Alfian turun. Bus pun berhenti dan Alfian turun dari bis kota itu. Bis lalu melaju dengan memberikan gumpalan asap hitamnya ke arah Alfian. "Wah Sialan tu bis ! Ada apa to hari ini !" Umpat Alfian dengan penuh kesal.Alfian terpaksa berjalan agak jauh dari tempat yang semestinya dan harus melewati jalan yang terdapat kalinya itu. Kali yang seperti kebanyakan di Indonesia mungkin, yang warna nya telah berubah tak lagi jernih namun butek karna limbak-limbah rumah tangga bercampur dengan material alam yang kini membuatnya tak enak lagi tuk dipandang.
Tiba-tiba di dekatnya ada suara benda jatuh ke dalam air. Alfian mencari sumber dari suara itu. ternyata itu adalah suara seorang gadis kecil yang terjatuh ke sungai. Tanpa banyak berpikir Alfian spontan lompat masuk ke dalam sungai dan menolong gadis kecil itu. Dia tidak mengalami kesulitan dalam berenang tuk menyelamatkan gadis kecil itu karna dulu juga dia sering bermain-main di kali dengan teman-teman nya. Alfian dengan sigap membawa gadis kecil itu ke permukaan, dia baringkan gadis kecil itu dan melakukan penyelamatan sejauh yang Alfian bisa, yaitu menekan-nekan bagian dada dari gadis kecil itu. Alhamdulillah, karna belum begitu banyak air yang diminum oleh gadis kecil itu, nyawa sang gadis kecil itu tertolong dan gadis kecil itu siuman.
"Adeik, adik kecil ?", panggil Alfian dengan lembutnya. Karna mungkin takut atau juga karna insting anak-anak, maka gadis kecil itu pun langsung menangis sekeras-keras nya. Alfian yang melihat hal itu bingung, namun entah mendapat bisikan dari mana ia langsung memeluk gadis itu dengan lembut nya. Dan tangisan gadis kecil itu pun berhenti. "Tenang ya dik, adik akan baik-baik saja kok," kata Alfian dengan penuh kelembutan. Alfian yang merasakan telah menolong sesorang entah kenapa hatinya merasakan sesuatu yang aneh, yang jarang dia rasakan. Lantas dia diam dan hati kecil nya lah yang kemudian berkata, "Ya Alloh, ternyata begitu nikmatnya menolong seseorang, mengapa aku tidak menyadarinya dari dulu Ya Alloh," ucap nya dengan penuh rasa yang campur aduk dalam dirinya.
Alfian menanyakan nama dan rumah dari gadis kecil itu yang ternyata bernama Annisa, tetangga nya yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Alfian. Maka Alfian pun menggendong nya dan mengantarkan nya menuju ke rumah. Dari bibir mungil yang lemah itu terdengar kata yang lirih, "Terima kasih ya mas, Mas memang orang baik deh," di sambut senyum polos nan tulus dari bibir si kecil Annisa itu. Alfian pun hanya membalas nya dengan senyum getir seraya dalam hati berkata, "Ya Alloh aku malu pada MU ya Alloh, ada hamba MU yang begitu polos yang mengatakan bahwa orang yang penuh keburukan ini adalah orang baik ya Alloh. Aku malu pada MU dan gadis kecil ini ya Alloh," kata hati nya yang kini terus menerus bergetar.
Begitu Alfian sampai di depan rumah Annisa, ibunda Annisa sedang menyapu halaman. Ia spontan kaget dengan keadaan Annisa yang terlihat sangat lemas. "Annisa ! Kamu kenapa nduk ?" Ibunda Annisa langsung merebut Annisa dari pelukan Alfian. Tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Alfian, ibunda Annisa itu marah dan mengusir Alfian karna mengira Alfian yang terkenal nakal lah yang telah membuat Annisa seperti ini. "Kamu apakan anak ku ! Dasar pemuda sampah ! Tidak ada gunanya kamu di dunia ini ! Pergi saja kamu !" Bentak ibunda Annisa dengan kasarnya sambil ia menggendong Annisa masuk ke dalam umah nya. Beruntung ayah dari Annisa tidak di rumah sehingga hanya ibu nya Annisa lah yang marah-marah. Alfian yang mendengar hal itu lantas memilih pergi dengan rasa marah yang bercampur dengan kesedihan yang mendalam.
Di tengah jalan, Alfian benar-benar menjadi bingung akan hal ini, "Kenapa seperti ini ya Alloh ? Apakah ini tanda bahwa aku tidak diijinkan tuk berbuat kebaikan ?" tanya Alfian dalam hati. Belum sempat Alfian melanjutkan pertanyaannya itu, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang kakek tua memakai tongkat dan baju putih. Berbeda dengan yang di masjid tadi, kali ini kakek itu terlihat lebih muda dan rapi. Tiba-tiba Kakek itu mendekat ke arah Alfian.
"Hai anak muda, apakah kamu kira untuk berbuat kebaikan itu jauh lebih mudah dari berbuat kerusakan di muka bumi ini ? jika kamu masih berpikir seperti itu maka bersiap-siaplah anakku, bahwa dalam kenyataan nya nanti akan banyak fitnah atau cobaan yang akan engkau temui. Fitnah ataupun cobaan yang hanya bisa dilalui oleh insan yang beriman dan berpegang teguh pada ajaran Tuhannya. Insan yang tak kan pernah mengenal kata putus asa. Tetap ingatlah anakku bahwa Alloh berfirman, bahwa "Sesungguhnya di dalam satu kesulitan itu terdapat banyak kemudahan, di dalam satu kesulitan itu terdapat banyak kemudahan." Tetap lah berjalan di atas jalan yang lurus ini anakku karna janjiNYA itu pasti kan terlaksana, jadilah orang yang tinggi derajatnya di hadapan Tuhan MU, karna hanya orang yang tinggi derajatnya di hadapan Tuhannya lah yang bisa merendah kan hatinya di hadapan Makhluk-makhluk NYA !" Nasehat sang kakek itu bagai embun sejuk di sore hari yang masih panas ini, yang tanpa dikomandoi bulir-bulir air mata Alfian jatuh dan dia sekarang telah menumpahkan rasanya itu di dalam dekapan sang kakek. Seakan-akan ia tengah berpelukan dengan jiwa nya sendiri. Selang tak lama kemudian kakek itu menghilang. Kejadian itu semula membuat Alfian terkejut tetapi kemudian ia sadar bahwa mungkin itu adalah jalan Alloh agar membuatnya mampu tuk berubah menjadi lebih baik.
"Bismillah ! Aku akan menjadi insan yang menjadi lebih baik lagi !" Tekad nya dalam hati diikuti oleh senyumnya yang baru, yang seolah menyampaikan pada dunia, atau tak usah jauh-jauh cukup pada jiwa yang tengah menyaksikaannya saat ini bahwa "BERSIAPLAH, KARNA ALFIAN YANG BARU AKAN DATANG !".
BERSAMBUNG

CERMIN DIRI eps 1

             "Aku nggak mau melakukan hal itu, aku nggak mau Fian!" Bentak seorang gadis dengan penuh ketegasan hingga mampu membuat sirna suasana hening di belakang sekolah berbentuk bangunan sederhana itu. Dengan penuh rasa benci, dia menatap lekat-lekat pria yang ada di hadapannya itu.
            "Kamu sekarang aneh! Sudah nggak mau nurut sama aku lagi ya!" Bentak pria lawan bicara nya tak kalah garang itu. Pria itu sekarang gantian menatap wajah gadis itu, sebuah tatapan yang sangat mengancam.
            Entah apa dan siapa yang memulai, pertengkaran hebat antara mereka berdua, Alfian dan Hafitsah ini pun terjadi. Pertengkaran yang membuat seekor semut yang ingin lewat sekali pun lebih memilih untuk mencari jalan memutar. "Mending jauh lah aku jalannya daripada ntar jadi ikut-ikutan," mungkin itu yang dibilang si semut jika suara nya bisa didengar sama manusia.
            Dengan Kesal Alfian pergi meninggalkan Hafitsah. Sebelum pergi, Alfian menyalahkan Hafitsah dengan penuh kebencian yang mendalam. Hafitsah yang menerima umpatan itu hanya bisa bersabar. "Alfian, saya harap kamu akan tahu yang mana yang haq dan yang mana yang bathil," doa dari Hafitsah yang tulus untuk Alfian sekaligus sebagai awal lembaran baru yang akan mereka berdua torehkan dalam hidup mereka.
            "Wah sial bener tu cewek! Emang nya hanya dia cewek yang ada di dunia ini!" Kesal Alfian dalam hati. Tiba-tiba terdengar iqomat berkumandang dari masjid sekolahnya. Seiring dengan hembusan angin yang menyejukkan hati, Alfian merasakan sebuah keinginan untuk segera memenuhi seruan yang ia dengar itu. Dia melangkah kan kaki nya menuju ke masjid. Ia lalu mengambil air wudhu itu dan ikut dalam jamaah menegakkan sholat di atas bumi Alloh tersebut. Dalam sholatnya, Alfian berpikir tentang desiran apa ini yang ada di hati nya. Desiran yang begitu menyejukkan, yang seperti sudah sejak lama ia rindukan. Entah kenapa ingin dia duduk berlama-lama di masjid sampai jamaah yang lainnya sudah tidak ada lagi yang tinggal. Di tengah kesendirian nya itu, terbesit rasa bersalah terhadap Hafitsah.
            Belum sempat ia ingin menepis rasa bersalah itu, tiba-tiba entah dari mana, ia melihat sosok kakek-kakek yang buruk rupa nya dan jorok pakaiannya yang spontan membuat Alfian merasa jijik. Tapi entah ada apa, Alfian tak bisa begerak dari tempat duduk nya.
"Ngger, jaman saiki kuwi jaman e wis berubah. Jarene saiki jeneng e wis JAMAN EDAN. Lha wong sing tuwo ora iso dadi contho ! lan cah nom saiki wis ora toto meneh urip e. Wis do miturut hawa nafsune dewe-dewe. Cah nom opo meneh wis arang sing njagi kesucian e dewe-dewe. Wis jaman ku wis dirusak koyo ngene, lha kok yo iso do ngomong neg ora melu edan kuwi ora bakal komanan. Piye to iki cah bagus cah bagus?" Kata kakek tua itu dengan ekspresi sedih yang menakutkan. Alfian yang mendengarkan hal itu pun sontak kaget. Seakan dia tak kuasa lagi menahan sindiran yang begitu mengena untuknya. Karna dia pun tak luput dari anak muda yang dimaksud oleh kakek tua itu. Spontan dari mulut Alfian terdengar suara, "Kulo nggih ngeten niku kek," jawab Alfian pasrah dan terdengar penyesalan. Lalu dia teringat akan adegan tadi sore yang ternyata saat itu Alfian tengah mengajak Hafitsah melakukan hal yang dapat merampas kesucian mereka. Mendengar jawaban Alfian itu tiba-tiba ekspresi kakek itu berubah sangat mengerikan. Bola mata nya naik ke atas hingga tinggal menyisakan mata nya yang berwarna putih.
"Kowe ! Kowe yo melu ngrusak ! Kowe sing ngrusak alam ku iki ! Kowe yo kudu melu tanggung jawab !" Bentak kakek itu sambil mencoba mencekik Alfian dengan penuh amarah. Alfian mencoba melepaskan diri dari cekikan kakek tua itu. Di saat nafas nya sudah naik turun tak karuan dan keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya, tiba-tiba dia tersadar dan ternyata tengah duduk sambil terdiam di masjid itu. Dengan nafas tersengal-sengal dia langsung berlari menuju rumah nya.
Setelah nafas nya sudah mulai teratur Alfian pun berpikir, "Ya Alloh, kejadian apa itu tadi ? Apakah memang aku termasuk pemuda yang merusak jaman ini ?" Tanya Alfian dalam hati. Pertanyaan ini terus menerus menghantuinya hingga ia keluar dari masjid dan berjalan menuju rumahnya.
BERSAMBUNG

Kamis, 01 Juli 2010

My Story part 4

Tak lama setelah itu, hasil rekapitulasi nilaipun kluar. Tak tahan tuk memendam tanya, akupun melihat hasil rekap itu. Terdiam, bisu, tak ada kata yang sanggup terucap, trasa raga tak ada lagi di badan. Tertulis dengan jelas. SMA NEGERI 1 YOGYAKARTA  pletonku mendapat PERINGKAT 16. Sedih, kecewa, tak tertahan lagi. Semua terasa begitu menyakitkan bagiku atau mungkin bagi kami. (Mohon maaf kepada bapak ibu kami kalau memang kami belum bisa memberi semaksimal mungkin).
Keesokan harinya, kamipun masuk sekolah dan pada saat itu yang bertugas menajdi petugas upacara adalah angkatan kami. Acarapun selese dengan diakhiri oleh pengumuman-pengumuman kejuaraan. Ssat latiahnpun dimulai. Kami dikumpulkan dan diajak berbicara. Dengan rasa kecewa dan sedih yang masih menempel di dada. Tapi ternyata bagai air yang menyejukkan jiwa, rasa itu sdikit sirna dengan perkataan mas Jundi. ”Ayo deq, tetep semangad. Meski kemaren hasilnya kurang memuaskan naumun bagiku, atau mungkin bagi kami, kalian adalah pleton yang terbaek kok.. ” dngan snyum mas Jundi itu seakan penyesalan itupun berubah menjadi semngad dan kami kan terus berjuang tuk dapat lebih baek lagi.. J
Mungkin itulah sedikit kisah yang ku dapatkan dari keluargaku, keluar Tonti Teladan. Yang mungkin masih banyak sekali kisah yang meski seluruh lautan ku jadikan tinta, dan seluruh kayu kujadikan kertasnya, itu semua belum cukup tuk mengisahkan kisah kita yang mungkin tak mampu kutulis semua namun ku akan terus mengingatnya meski lautan tlah jadi tinta dan kayu tlah jadi kertas. Thanx 4 everything u gave to me .. J
Tonti Teladan!!! Teladan JAYAMAHE!!!

My Story part 3

Nah, setelah itupun kami mengikuti PPI kota dan alhamdulillah kami mendapatkan Juara Umum untuk Tonti Teladan. Senangnya kami, namun ada sedikit rasa was-was bahwa kelak kejadian saat LBB itu akan terulang dan kami semakin digerogoti oleh rasa ”Lebih”. Untuk itulahg kami selalu ditempa mental baik oleh pak Singgih maupun bapak ibu kami. Hingga pak Singgihpun membuat ujian yang ketiga yaitu kami harus berkunjung ke rumah bapak atau ibu kami. Nah, akhirnya ditentukanlah kelompok dan dimana kami akan berkunjung. Aku satu kelompok dengan Hanif an Edo dan mendapatkan tempat di tempatnya Mbak Alifah. Hmm.. karna aku secara pribadi belum mengenal Mbak Alifah seperti apa, makanya sempet agak deg-degan juga sich. Dan akhirnya kamipun berkunjung ke tempatnya mbak Alifah (ya semepet nyasar-nyasar juga sich tapi nyampe kok.. he3.. ), dan sampai di sana kami disambut dengan salam hangat dari mbak Alifah dan itupun sudah menjadi bagai siraman air dalam kobaran api deg-deganku (weleh-weleh bahasane.. he3.. ) kamipun berbincang-bincang dan tak sadar waktupun telah menunjukkan pukul 20.00. mbak Alifahpun bertanya kepada kami kok nggak pulang, dan kamipun menjawab ya nggak papa kok mbak. Dan mbak Alifahpun memberikan sinyal-sinyal bahwa kami harus segera pulang (wkwkwkwkw.. :D). Ok dech kami pamit, dan ternyata kami mendapat bingkisan berupa jas pinjaman yang harus kami berikan kepada teman kami yang nantinya ini adalah ujian kami selanjutnya.
Esok harinya Pleton yang putri dipanggil oleh pak Singgih dan kami nggak ta apa sich yang dibicarakan mereka. Baru setelah itu keesokan harinya kami dipanggil dan diberi tahu bahwa kami ini kurang teliti. Bahwa kemaren itu jas yang milik teman kami itu telah dimanipulasi (ya something like that lah.. he3.. ), dan kami tidak perhatian sehingga dalam ujian inipun kami kembali gagal. Dan di ujian itu kami diberitahukan bahwa akan ada 1 ujian lagi yang menyusul, entah kapan datangnya.
Nah beberapa hari setelah itu, kami bersiap tuk mengikuti PPI Propinsi. Ya, lomba yang menjadi tolak ukur latihan kami selama ini. Pagi hari kami telah semangat tuk mengikuti perlombaan ini. Pagi kurang lebih jam 9an aq dan teman-teman telah tiba di tempat PPI Propinsi yaitu balai Kota. Kami sampai di sana ternyata masih anak-anak SMP yang tengah berlomba. Kami menunggu hingga tiba giliran kakak kelas kami yaitu Tonti Teladn 2011 baik yang putra maupun yang putri, kamipun ikut menyaksikan mereka dan menyemangati mereka dengan doa. Dan akhirnya tiba saat kami tuk maju. Dengan berbagai rasa menjadi satu, kamipun maju baik pleton putra maupun pleton putri. Pos 1 tlah kami lewati, begitu pula pos 2, dan pos 3 serta pos 4. fiuh ada kelegaan dari wajah kami namun dibalik wajah itu masih ada banyak ketegangan. Setelah itu masih ada bapak ibu kami yang maju tuk ikut lomba juga. Setelah seluruh peserta tlah selese, tinggalah kami menunggu hasil. Deg-degan jelas. Tapi kamipun tetap berdoa kepada Alloh agar diberikan yang terbaek.
Pengumuman pun dimulai, diawali dengan upacara dan selanjutnya pengumuman mulai dari yang SMP dulu. Nah tibalah dibacakan pengumuman kejuaraan buat tingkat SMA atau yang sederajat. Mulai dari yang putri. Alhamdulillah pleton putri ada yang masuk menajdi peringkat 5 meski ada tanda tanya peringkat berapa pleton kakak kelasku atau pleton ibuku. Nah tiba saatnya pembacaan hasil lomba bagi yang putra, mulai dari harapan 3, harapan 2 yang alhamdulillah diperoleh oleh bapak kami, lalu harapan 1, peringkat 3, peringkat 2, dan peringkat1. Deg, tiba-tiba ada rasa yang menusuk di dalam hati ini. Satu pertanyaan muncul, mana pleton kami ??? peringkat brapa kami ??? sedih ??? iya!!! Kecewa ??? iya!! Namun, apa daya kami, palu telah diketuk, keputusan tlah jatuh, dan keputusan itu adalah pletonku pulang dengan tangan hampa. To be continued

My Story part 2

Beberapa hari setelah itu, saat aku, ikhsan dan ahmad tengah mengikuti kegiatan pemerintah yaitu sego segawe, tepat sore hari sebelum acara itu, saya di SMS oleh mas Jundi yang berisi kurang lebih bahwa Tonti masih membuka kesempatan buatku tuk dapat bergabung lagi. Wah, akhirnya akupun meminta waktu kepada mas Jundi besok pagi. Lha pada waktu itu, saya tengah mengendarai sepeda saya dan terdengarlah lagu raja yang pelangi, tanda tanda sms masuk di hp saya. Sayapun membaca. Dari mas Jundi. Dek bagaimana apakah kamu jadi ikut Tonti ? Kurang lebih itulah yang tertulis di hpku. Hmm... jari jemarikupun menulis jawabannya yang kemaren malem telah aku pikirkan dan aku diskusikan kepada orang tuaku.
            Keesokan harinya, pagi hari saat ingin masuk matrikulasi (wah jam k 0 masih ngantuk banget sich), di sudut mading iseng-iseng aku mebaca tempelan yang ad di situ. DCT Tonti Teladan 2012 dan aku lihat dari kelasku, dan terkejutlah aku karna ternyata ada namaku. ”Ha ?? kemaren itu aku menjawab akan saya coba dlu mz dan ternyata sudah jadi calon tetap nich!” Hmm.. perasaanku campur aduk antara bingung, seneng ma laen-laen dech salah satunya adalah takut karna aku bisa menjadi bagian dari ini tanpa mengikuti tes tertulis maupun tes wawancara. Tapi ketakutan itu sebagian mulai berkurang dengan pemberian semangat dari temen-temenku dan ada adhi juga yang sama nasibnya sepertiku (Thanx ya.. J).
            Akhirnya latihan-latihanpun aku jalani. Wah beratnya. Itulah yang aku rasaan saat awal-awal. Tak terasa, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari dam minggu demi minggu kami lalui (hahaha.. maaph agak lebay dan kayaknya mau bantu buat menuh-menuhin halaman dech.. he3.. ). Tak terasa ternyata keakraban di antara kami sudah menguat meski belum terlalu erat. Hingga ternyata Pak Singgih memiliki ujian buah dari ide-ide beliau yang cemerlang (ckckckc.. kagum aku sama pak Singgih). Ujian pertama yang kami lalui adalah kami diuji apakah kami ini seperti robot yang selalu patuh saja tanpa memiliki pemikiran dan pendapat sendiri. Yaitu pada waktu LBB SMA N 5. ya di situ kami diberi mandat oleh Pak Singgih agar seluruh anggota kami masuk semua menjadi satu pleton dan sesaat sebelum lomba ternyata hanya 30 orang saja yang bsa masuk 1 pleton sehingga menyisakan cadangan. Dan kamipun gagal dalam ujian ini karna tidak mau mematuhi perintah pak Singgih tapi ini semua karna kami yakin 100 % atau bahkan 1000 % (weleh2.. ) bahwa apapun yang diminta oleh kakak-kakak kami itupun karna ingin yang terbaik buat kami.
Dan alhamdulillah kami saat itu pleton yang putra mendapatkan peringkat 3. tapi ternyata itulah ujian kami selanjutnya. Dimna ternyata rasa ”lebih” menggerogoti kami. Rasa ”lebih” dari yang laen, rasa ”lebih” dari teman-teman kami. Ya itulah yang menjadi ujian kami selanjutnya. Memang lidah tak bertulang sehingga mudah sekali dia kan bergerak. Mungkin itulah kata-kata yang cocok sangat ternyata salah satu atau bahkan beberapa dari temanku ada yang berkata-kata dan itu membuat kami pecah menjadi 2 kubu, yaitu putra dan putri. Akhirnya di situlah puncaknya hingga kami harus membuat prasetya dan di situlah kami benar-benar diuji. Tapi seperti kata pepatah lama, tak ada sesuatu yang tak bisa diambil hikmah dan sisi baiknya, bahkan daun yang rontokpun dapat diambil hikmah mengenai ktegaran sang pohon yang tetep berdiri tegap walau salah satu anggota tubuhnya ada yang hilang. Ok kembali ke jalan yang lurus (hehehe.. kayak bu Cut), nah akhirnya kami pun mendapatkan pelajaran dan hikmah dech dan hubungan kami makin akrab. To be Continued

My Story part 1

Kisahku ini bermula dari pertama ku menginjakkan langkahku di sekolah baruku. Di sekolah yang mungkin dulu hanya kuketahui namanya saja. Sekolah yang dulu hanya bisa kudamba-dambakan saja. Tetapi kini, kuberdiri di sini, bukan tuk mengikuti Test Uji Coba (TUC), ataupun mengikuti berbagai lomba, namun ku disini karna disinilah sekarang ku menuntut ilmu. Ya SMA Negeri 1 Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan Teladan.
            Hari pertamaku di sekolah, aku disodori dengan berbagai kegiatan yang berguna untuk memperkenalkan sekolah ini kepada kami yang masih ”baru” menjadi anggota di keluarga besar ini. Bermula dari masa itu dan pada saat Gladi Vidya Teladan (GVT) lah kisah-kisahku yang tak kan terlupa bermula. Eits, tapi ga’ semua sich. Yang ada hubungannya dengan keluarga baruku di sini. Ha ??? mang siapa keluarga baruku ??? mau tau ??? baca sampai akhir dunk.. he3... :P
            OK... Wah pada saat Gladi Vidya Teladan adalah masa-masa yang membuat seluruh kemampuan fisik dan non fisikku terkuras. Setelah belajar, kami diadakan acara-acara khusus dan tugas-tugasnya yang menyita banyak waktu kami terutama waktu tidur (Pernah ga’ tidur 2 hari + sakit ampe panas 400 juga). Nah dan ada satu lagi yang benar-benar menguras tenaga kami. Kami mengikuti latihan baris berbaris. Panas, capek, dah gitu dibentak-bentak lagi. Wah wah..
            Pada saat malam eksplanasi, kami disuguhkan berbagai macam ekstrakulikuler yang ada di SMA Negri 1 Yogyakarta ini, dan memang saya dulu basicnya PMR, jadi pengen banget sich gabung di TJRC (Teladan Junior Red Crescent) dan ada 1 lagi ekstrakulikuler yang menarik mata dan minatku. Ya, barisan rapi nan cantik serta tegas dipamerkan dihadapan kami lengkap dengan pakaian komplit. Kuamati barisan orang-orang itu yang tengah asyik membuat formasi. Wow bagusnya, ingin aku kelak dapat masuk ke dalam barisan itu. Hingga kuputuskan bahwa besok aku kan mengikuti 2 kegiatan ekstra kulikuler, yaitu TJRC dan yang seperti orang yang bebaris itu.
            Hari demi haripun kulalui sebagaimana siswa dengan aktivitas belajarnya. Hingga pada suatu hari kulihat beberapa orang tengah sibuk menempel tulisan di dinding. Tulisan itu bertuliskan ”Open Recruitment” dan ternyata telah banyak yang menempelkan tulisan-tulisan itu. Akhirnya di antara sekian banyak tulisan itu, akupun tertarik tuk mencoba mendaftar di beberapa ekstra dan organisasi di sini. Yaitu MPK, POH, TJRC, dan satunya adalah baris-berbaris itu yang aku tahu di sini bernama Tonti Teladan.
            Setelah mengisi formulir, akhirnya saya menyerahkan kembali formulir itu kepada tempat yang membuka kesempatan itu. Tiba-tiba tak lama setelah saat itu, saya selaku perwakilan kelas dipanggil guna ada pertemuan seluruh perwakilan kelas dengan wakasek kesiswaan yang sudah tidak asing lagi dan tiada duanya ( hahaha.. lebay dikit nich) beliau adalah Pak Singgih. Beliau mengatakan sesuatu yang membuatku ragu akan apa yang sedang kuperbuat. ”Pokoknya besok itu, bilangin ke teman-temanmu kalo ikud ekstra atau yang diini di sebut Sienom, milih satu aja nggak usah banyak-banyak!”. Ya kurang lebih itulah yang beliau sampaikan kepada kami. Akhirnya kuberpikir ulang, mana yang harus aku lepas padahal aku sama sekali tak ingin melepas itu semua. Akhirnya setelah ku berpikir, aku berkonsultasi dengan bapakku antara 2 pilihan itu. Dan ternyata kalau masalah ekstrakulikuler itu aku dilarang buat ikut Tonti. Wah betapa kecewanya aku saat itu karna tidak bisa menjadi salah satu orang dalam barisan itu. Akhirnya, akupun mengundurkan diri dan membuang jauh-jauh keinginan itu. To Be continued