Kebaikan itu selalu INDAH

Kebaikan itu selalu INDAH
Teladan, tempatku kini dan apa yang kan kuperbuat nanti.. Walau menurutku apa yang kan terjadi itu semua masih misteri tapi tak kan pernah menyurutkan semangatku untuk berusaha yang sebaik mungkin.. Dan Atas ijinNYA, aku yakin bahwa Alloh memiliki rencana yang jauh lebih INDAH daripada apa yang aku, makhlukNYA rencanakan.. Bismillah, Dengan menyebut nama ALLOH, kulangkahkan kaki ini, agar aku tak kan hanya berdiam diri :)

Sabtu, 31 Desember 2011

Monyet


Ada sebuah perumpamaan nih.
Seekor monyet yang lihai dalam memanjat pohon kelapa, ia memanjat sampai ke pucuk nya karna ingin merasakan segarnya kelapa. Tiba-tiba datang angin ribut, berpegang erat lah sang monyet agar tak terjatuh, datang lagi badai yang lebih besar, berpegang lagilah dia lebih erat lagi, nah setelah angin besar itu pergi, sang monyet yang masih terpejam karna kencang nya angin sebelumnya, disapa oleh angin sepoi-sepoi, dan apa yang terjadi, tertidurlah dia dan akhirnya terjatuh.
Saudara ku semua nya, yang nama nya ujian, cobaan, dan rintangan itu dapat berupa banyak hal. Bukan hanya orang miskin yang terlihat susah, orang kaya pun ia juga diberi cobaan, mau di bawa kemana dan digunakan untuk apa harta itu.
Sama dengan kondisi saat ini, buka dan lihatlah data berapa persen jumlah muslim di Indonesia. Tanyakan pada penduduk dunia di negara mana yang memiliki jumlah pengikut Islam terbanyak? Di mana di negeri ini adzan boleh dikumandangkan, boleh menutup aurat, tidak ada perang fisik. Bandingkan dengan saudara2 kita di negeri yang adzan tak dapat berkumandang luas, di mana hijab dipandang meresahkan, bandingkan dengan saudara2 kita yang melawan bom dan senjata perang hanya dengan batu.
Hai, apakah kita tak ubahnya seperti monyet itu, apakah harus Alloh berikan angin yang ribut dulu baru kita kembali berpegang erat pada NYA. Apakah harus IA mengguncangkan kembali daratan kita dan menggulung lagi lautan kita baru kita semua introspeksi diri dan berbenah. Apakah pula di sekolah kita tercinta harus ada seorang yang terkena imbas nya dulu dalam berzina baru kita sadar tuk tak mendekati zina?
Kapan kita mati? Kapan? Tak ada yang tahu!
Kenapa kita masih sombong dengan berkata, "Nanti sajalah, nunggu tua baru taubat,"
Woi! Perkataan sombong macam apa itu? Siapa yang menjamin setelah membaca note ini kamu masih hidup? SIAPA?

Budi dan Alam mencari pelet
Dari melati hingga cendana
Janganlah jadi macam si Monyet
Yang mati karna terlena

Selasa, 06 Desember 2011

BUKAN SALAH ISLAM!


1. Oh, orang Islam yang berhijab besar itu pasti tidak bersosialisasi dengan masyarakat atau tetangganya.
BUKAN! Jangan sekali-kali anda membawa-bawa ISLAM kalau demikian!
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)
2. Oh, orang Islam itu sukanya marah-marah, kelihatannya sangar ya! 
BUKAN! Jangan sekali-kali anda membawa-bawa ISLAM kalau demikian!
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.
(Riwayat Bukhori )
3. Oh, orang Islam itu yang terlihat ibadahnya kuat, kenapa dia tidak mau ikut gotong royong ya dan acuh tak acuh saat kita ada apa2! 
BUKAN! Jangan sekali-kali anda membawa-bawa ISLAM kalau demikian!
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa  yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.
(Riwayat Muslim)
4. Oh, orang Islam yang sehari-hari sholat di masjid itu ternyata diam aja ya ngliat ada orang yang bukan mahramnya bermesra-mesraan dan bahkan dia diam aja kalo ada orang yang berbuat keburukan!
BUKAN! Jangan sekali-kali anda membawa-bawa ISLAM kalau demikian!
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.
(Riwayat Muslim)
5. Oh, orang Islam yang sudah tidak isbal itu sikapnya kok kasar-kasar ya!
BUKAN! Jangan sekali-kali anda membawa-bawa ISLAM kalau demikian!
Sabda Rasulullah: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala usrusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan."(HR. Muslim). 
“Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.” (HR.Muslim)
Astaghfirulloh, apakah hamba masih belum menjadi muslim yang kaffah ya Alloh ? Masih menjadi Muslim yang setengah-setengah dalam menjalankan satu-satunya agama yang kau ridhoi ini. 
Di satu sisi hamba sholat lima waktu namun perbuatan keji dan munkar masih hamba lakukan.
Di satu sisi hamba sudah menutup hijab hamba namun untuk bersedekah dengan senyum pun hamba berat.
Atau jangan-jangan hamba bahkan dengan terang-terangan menolak perintah mu dan dengan sombong nya berkata,
"Aku sudah mengerjakan perintahmu yang ini, maka jangan kamu suruh lagi aku untuk melakukan itu"
Atau kesombongan hamba yang lain 
"Masih mending aku begini, daripada mereka yang tidak melakukan ini"
Sungguh ya Alloh, hamba yakin Engkau telah berfirman dalam hadist Qudsi
“ Wahai hamba-Ku, jika semua golongan manusia dan jin dari golongan pertama hingga terakhir berbuat baik dengan hati yang paling bertakwa sekalipun hal itu tidak akan menambah sedikit pun kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku jika seluruh jin dan manusia dari golongan pertama dan terakhir berbuat jahat maka hal itu tidak pula mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun”

Semoga kita semua bisa tetap istiqomah di jalan kebaikan ini. Jalan yang sebneranya lebar namun terkadang  kita lebih enak melalui jalan keburukan meski sempit.
Mntalah kepada Alloh Yang Maha Pembolak-balik Hati untuk menetapkan hati kita pada AgamaNYA yang mulia ini, Agama ISLAM, dan memberikan hidayah kita agar mendapatkan keteguhan pada agama yang sebenar-benarnya ISLAM.
Allohuakbar! Allohuakbar! Allohuakbar 

Senin, 28 November 2011

Aktivis ?

share dari grup sebelah di facebook

"Dimana rumahmu Nak?"

Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?

Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?

Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Minggu, 27 November 2011

17 tahun hidup ku dengan mu, Papa dan Mama..

Waktu aku lahir ke dunia
Engkau tukar sakit dan nyawa mu
Untuk kelahiran ku anak mu
Balasan dari ku
Saat itu aku menangis sekeras-keras nya di hadapan mu

Waktu aku berumur 1 tahun
Engkau berikan ku asupan gizi
Agar aku tumbuh sebagai anak yang sehat
Balasan dari ku
Aku menangis tengah malam
Tak tahu bahwa engkau begitu lelah hari itu

Waktu aku berumur 2 Tahun
Engkau ajarkan ku berjalan
Balasan dari ku
Aku pergi kemana pun aku mau
Meski engkau memanggilku


Waktu aku berumur 3 Tahun
Engkau berikan aku makanan setiap harinya
Engkau lembutkan nasi itu hingga menjadi bubur
Balasan dari ku
Aku menangis karna aku menginginkan makanan yang lain

Waktu aku berumur 4 tahun
Engkau berikan aku pensil berwarna
Balasan dari ku
Aku corat coret tembok rumah dan buku-buku mu

Waktu aku berumur 5 tahun
Engkau kenalkan aku dengan dunia pertemanan
Balasan dari ku
Aku tinggalkan engkau tuk bermain dengan teman-teman ku

Waktu aku berumur 6 tahun
Engkau mulai meminta ku tuk sekolah
Engkau membiayai ku dengan uang hasil kerja kerasku
Menyekolahkan ku di sekolah yang baik kata orang-orang
Balasan dari ku
Aku malas berlama-lama di sana dan sering kali engkau dipanggil oleh guru ku atas kenakalan ku

Waktu aku berumur 7 tahum
Engkau telah memfasilitasi ku dengan peralatan sekolah komplit
Bahkan tas dan buku tulis
sangat berbeda dengan mu dulu yang masih menggunakan sabak
Balasan dari ku
Engkau tak perlu membeli lagi buku tulis yang baru untuk ku tahun depan
Karna buku tulis ku begitu bersih

Waktu aku berumur 8 tahun

Engkau membelikanku Bola
Aku begitu bangga nya memamerkan pada teman-temanku
Balasan dari ku
Engkau dipanggil oleh tetangga depan rumah
Karna aku memecahkan kaca rumahnya

Waktu aku berumur 9 tahun
Engkau selalu menambahkan uang jajan ku seribu agar aku mampu menelpon mu
Bahkan engkau mencatatkan nya untuk ku nomor mu
Balasan dari ku
Aku meminta Handphone untuk mu seperti teman ku itu
Alhasil aku ngambek seminggu untuk ini

Waktu aku berumur 10 tahun
Engkau mensemangati ku terus untuk belajar
Sehingga nilai dan ranking ku meningkat pesat
Balasan dari ku
Aku membentak mu dengan kalimat harian ku
"Aku tahu ma kalo harus belajar!"

Waktu aku berumur 11 tahun
Engkau mengantarkan ku dari kolam renang sampai pesta ulang tahun teman ku
Dengan sepeda motor nya
Yang entah mengapa meski panas namun aku tak pernah merasa panas
Balasan dari ku
Aku bermain asyik dengan teman-temanku
Hingga aku lupa pada mu

Waktu aku berumur 12 tahun
Gempa Bumi besar melanda kota kita
Aku masih ingat jelas saat itu
Saat itu engkau di lantai atas dan berteriak-teriak memanggil nama ku untuk segera keluar, padahal engkau lah yang masih berada di lantai atas
Balasan dari ku
Aku telah keluar ma, pa.
Dan telah lebih dahulu mneyelamatkan diri sendiri

Waktu aku berumur 13 tahun
Aku memasuki masa remaja ku dulu
Engkau tetap penuh semangat selalu menjadi layaknya "sopir pribadiku"
Balasan dari ku
Pernah terbesit dalam benak ku
Bahwa aku malu dibonceng oleh mu.

Waktu aku berumur 14 tahun
Engkau menyarankan ku untuk memotong rambut ku yang panjang
"Mau Papa antar ke tempat Papa biasanya" tanya nya pada ku
Balasan dari ku
"Nggak ah Pa, Papa nggak tau mode sih"

Waktu aku berumur 15 tahun
Aku ingat engkau pasti pulang malam hari dan tetap ingin bertemu kepada ku
Walau hanya sekedar memeluk ku
Balasan dari ku
Aku mengunci diri ku dalam kamar
Seolah kita berada di beda tempat

Waktu aku berumur 16 tahun
Engkau selalu memuji ku bahwa aku terlihat ganteng di depan mu ibu
Bahkan sering membuat Papa cemburu karna nya
Balasan dari ku
Aku mengatakan kepada seorang teman wanita ku
Bahwa dia lah wanita yang tercantik yang pernah ku temui
Bukan kamu ibu ku.

Waktu aku berumur 17 tahun
Engkau telah habis kata dalam menasehati ku
Karna jakun ku telah tumbuh
Karna KTP tlah ada di dompet tanda aku tlah dewasa
Hanya mimik muka mu yang terlihat sedih melihat kenakalan lu
Balasan dari ku
Aku membalasnya memakai muka marah ibu!
Memakai muka marah!

Di usia ku ke 18 ini dan selanjutnya akankah aku atau mungkin kita sahabat masih tidak ingin berkata
BAHWA KITA SAYANG PADA PAPA DAN MAMA KITA?
Apakah perlu kematian mengajarkan kepada kita ?
Apakah perlu penyesalan datang barulah kita tersadar ?
Apakah perlu sahabatku ?
Tetaplah tak berubah
Father And mother I Love You :)








Rabu, 23 November 2011

Quotes from Mabit :D

"Be The Generation of Muslim Prestatif"  
1. Hidup tidak memberi pilihan lain selain naik, karna yang tetap sama dengan Turun
2. Jadilah ikhwan atau akhwat yang prestasi, yang melakukan hal yang lebih dalam hal kebaikan dibanding yang Biasa-biasa saja
3. Contoh hal-hal yang berprestasi dalam Sholat
    A. Sholat selalu awal waktu
    B. Sholat Selalu berjamaah (Terutama yang ikhwan)
    C. Sholat yang Khusyuk
    D. Sholat yang panjang berdiri nya
    E. Sholat wajib di tegakkan, sholat sunnah pun tak ketinggalan
4. Contoh hal-hal yang berprestasi dalam Belajar
    A. Belajar dengan rajin dan tekun
    B. Belajar dengan sungguh-sungguh
    C. Sabar pantang menyerah
    D. memanfaatkan ilmu dengan benar
    E. Ikhlas dalam belajar
5. Contoh hal-hal yang berprestasi dalam Muamalah
    A. Bermanfaat bagi orang lain
    B. Teladan dalam kebaikan
    C. Mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemunkaran
    D. Menginspirasi kebaikan
    E. Ikhlas karna Alloh
6. TIME MANAGEMENT
    A. Tetapkan tujuan dan cita-cita hidup anda (Target #1 akhirat)
    B. Break Down target hidup kita ke dalam rencana yang detail
    C. Perencanaan waktu yang matang
    D. Tetapkan skala prioritas
    E. Luangkan waktu (refresh) dan evaluasi diri (muhasabah)
7. "We will only be ready for what we are preparing before"
    "Kita hanya akan menajdi siap untuk hal-hal yang kita siapkan sebelumnya"
8. "Do What you love and (learnt to) love what you do now"
    "Kerjakan apa yang kamu cintai dan (belajarlah untuk) mencintai apa yang kita kerjakan sekarang"
9. "Luruskan niat, semua yang kita lakukan saat ini dan esok adalah untuk Alloh"
10. Hidup itu sebuah belajar, dari persiapannya, proses nya hingga hasilnya.
11. Kisah kaktus dan ulat,
Suatu hari ku mengeluh pada Alloh. Ketika ku meminta setangkai bunga indah, Ia memberi ku kaktus berduri. Ketika ku meminta seekor kupu-kupu, Ia malah memberi seekor ulat berbulu. Aku sangat marah kala itu. Dalam hati aku menggerutu dan mengeluh pada Alloh. Karena apa yang aku minta tidak seperti apa yang Alloh berikan saat itu.
Hari berganti hari. Ketika suatu sore kulihat dari balik jendela kamarku. Ku begitu takjub. Kaktus berduri itu kini telah berbunga dan indah sekali. Dan ulat berbulu yang dulu begitu menggelikan pun telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang sangat cantik. Melihat itu semua senyumku pun terkembang Dan aku merasa sangat bodoh dan menyesal telah menyalahkan Alloh
Kini ku mengerti……
Alloh tak pernah tidur, Dan Ia tak pernah melewatkan pandangannya seditik pun dari kita
Ia tak selalu memberi apa yang kita minta
Tapi memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita mau
Dan yang lebih penting dan kutanamkan dalam hatiku adalah
Semua yang terjadi, segala sesuatunya adalah Rencana Alloh yang indah pada waktunya.


Sabtu-Ahad, 19-20 November 2011
Setelah diguyur hujan sangat deras.
Surya Global


Jumat, 18 November 2011

Menangis dan Tersenyumlah Sahabat


Menangis dan tersenyum bukanlah kedua pilihan yang saling meniadakan, menangis adalah pekerjaan mata dan tersenyum adalah pekerjaan mulut, biarlah mata melakukan pekerjaannya, biarkan pula mulut melakukan pekerjaan nya.
Biarlah sang mata menangis, biarkanlah ia mengeluarkan tiap-tiap bulir air dari sana, agar tumpah segala rasa di jiwa, agar merasa lemah di hadapan Yang Maha Kuasa, agar jauh dari sifat congkak, agar tak kenal lelah ketika usaha, karna tangsi mu memberitahu mu betapa manis nya kenikmatan yang telah diberikan Alloh untuk kita. :'(
Tetapi sahabat, tetaplah biarkan pula mulut melakukan kerjanya. Pertahankan senyum mu itu merekah sahabatku, agar menjadi indah di dalam kesusahan, agar menjadi manis di kala kepahitan terasa, agar sedekah senantiasa bertebaran,agar menjadi dekat yang jauh, agar menjadi rekat yang telah dekat, agar yang rekat tercipta ukhuwah, agar engkau senantiasa menangis di sela doa mu dan tersenyum di saat memandangku. :)
Tetap menangis dan tersenyumlah karna tangis adalah ekspresi pertama yang diajarkan kepada kita dan senyum adalah ekspresi yang pertama di ajarkan oleh orang-orang yang mengasihi kita. :')

Rabu, 02 November 2011

Tidak Peka ?

Menulis itu mencerminkan hati melalui tulisan (sekarang bukan pena je :D )
Nah, aku mau nulis ki, sekarang cerita tentang pasangan yang sudah menikah.
Don't look this story from the writer, but just read this story!
Maklum writer nya belum nikah je. haha :D
Nah ini mau cerita antar obrolan aja sih, antar dua insan Pria dan Wanita, eh tak ganti aja ya Ikhwan dan akhwat
Sifat mereka tidak sama, ah itu mah biasa, tetapi ternyata sifat mereka itu bagaikan api dan air, berbeda dan berlawanan.
Ikhwan sering bersifat RDB alias Ra dong Blas, ya tidak peka tentang akhwat atau bahasa gaul nya kagak romantis. haha
Sedang Akwat bersikap ingin agar sang Suami  (Ehm, yang belum berumah tangga pasti mak jleger denger kata ini :P) bisa bersifat romantis dengannya sehingga ia sering memancing sang suami. Di sini ada 3 Crita yang akan aku ceritakan, sebelum nya ini menyunting dari cerita sesungguhnya tapi tak perlu membahas siapa nya agar bisa ngambil hikmah nya aja bukan nggibah :D
Akhwat ini bingung, kenapa Ikhwan yang satu ini begitu lugu akut, maka nya dia mencoba memancing sang ikhwan agar bersikap romantis pada nya (Maklum memanjakan pasangannya baik suami atau isteri itu dituntunkan lho sebagai bunga-bunga indah pernikahan), pengen deh kayak crita Ali dan fatimah.
Pernah suatu waktu fatimah berkata pada Ali,
"Suamiku... Sebelum menikah denganmu, aku pernah sangat menyukai seorang laki-laki dan aku sangat ingin menikah dengannya." Berubah rona wajah Ali mendengar kalimat ini. Cemburu, penasaran campur aduk jadi satu. Tapi tetap dengan kelembutan dan perasaannya yang halus dia berkata, "Apakah engkau menyesal menikah dengan ku?" Fatimah tersenyum geli melihat ekspresi sang suami. " Tidak," ucapnya. " Karna lelaki itu adalah... Engkau", Subhanalloh sungguh indah kejadian Putri dari Rosullulloh dan Khalifah keempat itu.
Maka dengan modal rencana, Si Akhwat tadi menghampiri suaminya, "Suami ku, kalau aku mau es kelapa, maka apa yang kamu lakukan?" tanya sang Isteri pad Suami nya, Suaminya itu sempat bingung, namun dengan polos nya dan mempertimbangkan keadaan dompet (maklum tanggal tua), sang suami menjawab, "Waduh, aku nggak ada uang e, afwan ya," Pupuslah kisah romantis diantara mereka berdua. Padahal kata-kata yang ada dalam benak nya bukanlah yang seperti itu, "Aku akan membiarkan mu tidur dalam kamar kita," Lalu sang Isteri membayangkan ia berwajah bingung, lalu sang suami tersenyum "Biar engkau tidak melihat betapa konyol nya aku saat mengambil kelapa di kebun kita itu, betapa payahnya aku ketika mengupasnya, dan kau hanya tahu ketika aku membawa kelapa itu ke kamar mu sehingga kamu tidak sadar bahwa suami mu ini tidak ada uang untuk membelinya," dan suami tertawa nakal. tapi itu hanya angan bagi sang isteri.
Sang isteri tetap tidak pantang menyerah, kali ini pancingannya sudah agak menjurus, pasti ia terpancing, "Suamiku, menurutmu bagaimana mencintai? itu" sang suami terkaget dan menjawab, "ya mencintai itu berarti menyatakan cinta, banyak og definisi nya, coba aja buka kamus, buata apa e ? Ngerjain tugas po ?", rasa nya seperti mendengar piring pecah atau memang tetangga ada yang memecahkan piring, ah mbohlah. padahal bukan sperti ini kisah nya.
seharusnya sang suami berkata, "Seharusnya kamu tanyakan pada diri mu sendiri," Kata suami ku sambil tersenyum, "Kok bisa ?" tanyaku heran, "karna aku mencintai mu sama dengan kamu mencintaiku, cinta karna Alloh ini telah membuat 2 cinta terlihat 1 bukan 1 cinta terlihat 2 bercabang atau berbeda, karna cinta kita sejalan beriringan, jadi kalo kamu tanya bagaimana cara ku mencintai mu, ya sebagaimana dirimu mencintaiku" Ahhh..... GAGAl lagi. Mangkel mulai terlihat.
Jangan menyerah dah, sekarang akan aku coba cara lain..
Sang akhwat berpikir "Aku akan mencoba mengajak nya makan di luar. Aku tahu dia paling anti makan di rumah, karna ia berpikir memang paling hemat makan di rumah. Akhirnya aku mancing dia dan kali ini pasti berhasil."
"Suami ku, kita makan di luar yuk, aku wis yang bayari make uang simpanan ku, gimana ?" tanya ku menggoda, sejenak ia berpikir dan ku merasa bahwa aku akan menang, "Beneran nih? Asyik dah, Ayo isteriku, kita berangkat," kata suamiku lagi-lagi dengan polosnya..
"AAAAAAAAA... Aku bener-bener bunek nih, sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil mendengar murotal dari CD player di mobil ini. Suamiku pun sibuk menyetir, entah aku udah males atau gimana, aku acuh tak acuh aja deh bahkan ketika ia berhenti di suatu tempat, dan akhirnya sampailah di suatu rumah makan. "What?" pikirku, inikan rumah makan yang terkenal romance, cocok buat pasangan yang baru menikah dan yang bikin kaget MAHAL! Apakah suamiku bener-bener nggak perhatian ma aku."
Sang Suami pun memesankan dua porsi yang sama yang itu sudah menjadi kebiasaan mereka untuk makan dan minum yang sama. mereka memilih tempat duduk dan Menunggu sambil ngliat pemandangan yang bener-bener indah sekali, dan ngobrol tentang beberapa hal.
Akhirnya makananpun datang dan sang isteri tertohok, makanan itu lezat sekali tapi yang pasti MEWAH! "Bagaimana ini, waaaaa, aku bener-bener bingung". sang Suami tampak lahap memakan makanan ini sedangkan aku canggung meski sang isteri mengakui makanan ini sangat lezat dan menggugah nafsu makan. mereka makan kurang lebih 10 menit.
Waaaah, akhirnya sampailah pada saat bayar membayar, dan benar saja, habis dengan jumlah yang besar, aduh bagaimana ini. Tetapi yang aneh nya, pelayan itu tidak menagih kepada kami namun malah mengucapkan "selamat jalan, terimakasih sudah menyantap masakan kami" kemudian tersenyum ramah. "Ada apa ini?" pikir sang isteri dan mereka pun naik dalam mobil lagi, dan aku memberanikan bertanya, "Suamiku, kenapa tadi kita tidak membayar?" tanya sang isteri polos, suami tertawa geli "Mana mungkin ada yang jualan tapi tidak dibatyar sayangku,", "Lha trus kenapa kita tidak bayar?" tanya sang isteri lagi "Isteri ku, biarlah aku yang membayarnya, bukankah aku pemimpin dari mahligai cinta kita ini, biarlah tak perlu melihat keluarnya uang, tetapi melihat bagaimana aku sedang menabung rasa cinta, memupuk rasa sayang dan mencoba menyemai nya. Sayang, aku tahu selama ini engkau ingin aku bersikap romantis, tapi aku memang begini, tidak terlalu peka, aku ingin memberikan cintaku tiap hari tapi beda rasa, dengan romantis, dengan cembur, dengan cerita, dengan hubungan kita dan dengan rasa-rasa yang lain yang menambah rasa sayang ini, Satu yang tak perlu kau pikirkan, bahwa aku pasti menyayangi mu kok" kata sang suami begitu lembut dan tersenyum pada sang istri.
"Perjalanan pernikahan kita ini akan menemui ujung cinta terindah dalam dekapanNYA." Sambil memeluk sang isteri dan melaju pulang.

HAHAHAHA
Kisahnya bikin galau ga' tuh ?
Bro, sist, jangan takut deh nggak dapet jodoh
Karna tulang rusuk tak pernah tertukar katanya Adnan
Karna Suami yang baik akan mendapatkan isteri yang baik pula
karna Tiap insan sudah mendapatkan pasangannya juga.
Nggak perlu cari jauh-jauh dari sekarang deh
Jatuhnya malah ntar maksiat
Yang penting Pantaskan diri
Jadi insan yang terbaik untuk pasangan kita
Karna sifat berbeda bukan alasan tuk tak bersama
Karna sifat berbeda bukan tuk perpecahan tetapi tuk pelengkap indahnya kehidupan
Kalau memang sudah menemukan dan sudah siap, ayo segerkan mengindahkan cinta, jangan dirusak
Segera menikah dan putihkan makna cinta
bagi yang belum siap, berpuasalah, menahan diri dari yang dapat menjerumuskan ke arah Zina
Ucapkan selamat datang kepada isteri kita
"Engkaulah wanita pertama dalam dekapanku Isteriku"
MAU?
Ini tadi niatnya yang tak maksud buat obat sih, karna kamu tadi dimarahin jadi buat obat biar senyum.
Pokoknya tetap "UFO KECEMPLUNG COKLAT" :))

Segala puji bagi Alloh Yang Maha Pengasih, Sang Pembuat Cinta, Rabb yang cinta kita yang haq adalah untukNYA
Untuk setiap cinta yang kurasa
Untuk Kedua orangtua ku
Untuk keluarga ku
Untuk engkau sayangku
dan Untuk mu sahabat-sahabat ku 
:)

Senin, 31 Oktober 2011

Mereka Memang Perhatian


Berpikir tentang hubungan keluarga ini. Mungkin kita yang sedang masa-masa nya berontak karna sudah punya prinsip masing2 bakal menyalahkan kedua orangtua kita, atau bahkan tak terima atas sikap mereka kepada kita. Terkadang kita berpikir, "ah, Mereka tidak mau mengerti aku". Ketika ayah berbicara keras karna kita ketahuan berkelahi atau suara ibu yang tak pernah berhenti mengingatkan kita ketika kita bangun kesiangan. "Ah mereka tidak mau mengerti aku". Ketika ayah mengadakan forum keluarga dan kita sebagai objek nya atau ketika itu ibu menyuruh kita untuk membeli beberapa bumbu dapur. "ah, mereka tidak mau mengerti". Sekarang, berimajinasilah kita, coba masuk ke dalam dunia masa kecil kita, saat mulut masih belum bisa berucap, saat banyak orang terlihat begitu asing bagi kita, saat rambut belum menumbuhi tubuh kita itu. Tidak tidak ! Jauh sebelum itu, saat kita tengah berbentuk ruh dan dipersiapkan oleh Alloh dalam jasad nya. Tidak tidak, ternyata masih jauh sebelum itu, saat kedua orangtua kita masih memimpikan punya anak seperti kita. Ya bayangkan begitu jauh nya. Bayangkan saat itu kedua orang tua kita tengah duduk di bangku sekolah ataupun pelajaran, mereka menuliskan dalam angan mereka "Aku harus rajin belajar, aku harus mampu meraih kesuksesan melalui belajar, agar nanti bisa memiliki kehidupan yang layak, untuk keluarga ku dan terutama masa depan anak-anak ku." satu poin kesalahan kita, mereka sudah mempersapkan untuk kita. Sekarang saat mereka mendapatkan pekerjaan, "Aku harus mendapatkan penghasilan yang layak, agar bisa menabung untuk kehidupan ku dengan isteri ku dan anak-anak ku nanti" dua poin kesalahan kita, ada harapan dia untuk kita. Hingga akhirnya ia menempuh hidup baru dengan pasangan nya, ayah kita berkata, "aku akan berhenti merokok, agar anak-anak ku nanti terhindar dari resiko penyakit kartna aku merokok", dan ibu kita berkata "aku akan berhenti bermain-main bersama teman-temanku, aku akan lebih banyak belajar memasak dan mengurus rumah tangga agar nanti anak ku mampu tumbuh dan berkembang melalui makanan yang kubuat" tiga bahkan empat poin kesalahan kita, mereka rela meninggalkan kebiasaan mereka yang teramat berat pasti nya mereka tinggalkan, hanya untuk kebaikan kita. Dan hingga akhirnya kita dikandung, betapa mereka berdua sangat menderita karna kita tapi sahabat, bandingkan betapa lebih banyak nya senyum dalam sakit yang ibu kita berikan dan lebih banyak kebahagiaan yang di sela keringat bapak kita, mereka berdua sama-sama memiliki pikiran "UNTUK ANAK KITA". nah sudah berapa ratus bahkan ribu jika kita ingin menjabarkan betapa orang tua kita jauh lebih perhatian dari pada yang kita kira. sudah saatnya, kita sebagai anak lebih memahami mereka, atau lebih kasar nya, maaf, sudah saatnya kita TIDAK MENJADIKAN DIRI KITA RAJA dan MENJADIKAN DIRI MEREKA BUDAK KITA, sudah saat nya kita memberi bukan lagi diberi. Komunikasikan pada mereka, karna satu rahasia yang mereka simpan dari kita, MEREKA BEGITU MENYAYANGI KITA DALAM SETIAP HAL YANG MEREKA LAKUKAN PADA KITA!
Perhatian lha dengan keluarga, because we are FAMILY
"Father And Mother I Love You"
:)

Segala puji bagi Alloh
Untuk setiap detil kehidupan
Untuk Kedua orangtua ku
Untuk engkau sayangku
dan Untuk mu sahabat-sahabat ku
:)
Powerfromyourself.blogspot.com

Jumat, 28 Oktober 2011

Kelinci Tinggi Hati

Sebenarnya bingung banget ni mau nulis apa.
Tapi kegalauan ini udah meluap-luap rasanya.
Meski kepala rasa nya berat sekali (maklum badan sedang tidak fit), tapi ingin sekali menuliskan kata demi kata di sini.
Kawan.
Entah, bagaimana rasa bahagia, senang, bangga, atau apapun itulah tentang kalian.
Serasa ingin memukul diri ku sendiri.
Karna standar yang begitu tinggi.
Aku akan menceritakan semua nya dari awal hingga saat ini
Melalui tokoh dan imajinasinya

"Berpendarlah cahaya tanpa melalui celah
Cahaya terbuka hingga silau mata
Sejenak berpikir mengapa ia kini gelap
Lantas tangan dan kaki ingin bergerak
Yang penting raga tak hanya diam"
"Aku melihat, kanan dan kiri
Begitu menyesakkan hati
Begitu tak elok lagi tuk dimengerti
Begitu tergugah tuk diperbaiki
mulailah kisah kelinci
Si Tinggi Hati"
"Banyak hal yang ia lakukan
Banyak hal yang ia pikirkan
Banyak hal yang ia canangkan
Ia siap mengorbankan banyak hal
Agar asa tak hanya impian"
"Tetapi, bukan hidup namanya jika ia datang tanpa cobaan
Memang
Banyak hal yang ia lakukan
tapi banyak pula dari yang ia lakukan itu GAGAL
Banyak hal yang ia pikirkan
tapi banyak pula dari yang ia pikirkan itu BASI dalam wacana
Banyak hal yang ia canangkan
tapi banyak pula dari yang ia canangkan itu MATI tak berasa
Ia sudah siap tuk berkorban
ya, hingga akhirnya mengorbankan banyak hal itu
Dalam kegagalan yang justru basi dan mati"
"Kelinci tinggi hati
Ia melihat kanan kiri
Tak sesuai dengan pikir dan hati
Lantas menyalahkan sana sini
Dan berkubang dalam lumpur berduri
Pekat lagi menyayat tak sekedar perih
Nasib kelinci Tinggi hati"
"Kelinci sekarang banyak diam nya
Kelinci sekarang tak pandai melompat
Ia murung hingg tak sanggup melihat ke depan
Hanya melihat ke bawah
Seakan-akan impian nya terkubur di sana
Di lumpur pekat penuh nanah itu
Kasihan ya Kelinci Tinggi Hati itu saudara?"
"Hingga datang kelinci yang lain
Mereka bebas berkeliaran tanpa beban
Melompat ke sana ke mari dengan riang
Dalam hati Kelinci Tinggi Hati
Enak bener mereka, lha aku?
Tanpa menyadari kelinci
Tentang kata-kata ajaib itu"
"Lama melamun dan melihat kelinci yang lain
Ia menyadari bahwa mereka pun sudah cukup tinggi
Mereka tak serendah dan bukannya tak enak dipandang
Hanya serasa ia lah yang terlalu tinggi dalam melompat
Hingga yang lainnya serasa rendah
Lantas muncul sebuah pertanyaan besar
Apakah aku yang tak enak dipandang?"
"Kelinci kecil masihkah ia tinggi hati?
Masihkah ia memandang tinggi asa nya?
Masihkah ia?"
"Kelinci kelinci kelinci
Tinggi Hati dalam skala manusiawi
Yang telah diciptakan Illahi
Lewat ilmu yang MAHA TINGGI
yang manusia hanya mampu mengerti
SECUIL"
"Kelinci kelinci
Taukah engkau cara terburuk dalam menyianyiakan waktu
Mau kah kau tahu
Jawabnya adalah
Bekerja bersungguh-sungguh
Dalam melakukan hal yang sia-sia
Hingga pekerjaan yang bermanfaat
terabaikan
Karna apa wahai kelinci ku sayang?"
"Jawab jawab
Tak perlu ditanya
Tak perlu dijawab
Lompatang mu sudah menjawab
Mewakili ribuan kata
Untuk ketinggian hati mu kelinci
Tersayang"

PuSER (PUiSi cERita)
Luthfi Alfikri K
untuk kenikmatan yang telah banyak Alloh berikan
untuk hari-hari ku yang luar biasa
untuk my beloved Family
untuk kamu sayang
untuk kamu semua sahabat
:)

Jumat, 21 Oktober 2011

Post ke 100 yang Aneh

Aku merasa aneh. Bukan karna apa-apa sih, tapi karna mereka itu. Aku seorang karyawan di suatu perusahaan. Entah ada kejadian apa, memang sih hari itu adalah hari di mana aku kecelakaan lebih dari 7 hari opname di rumah sakit. Saya tabrakan ketika mengendarai mobilku menuju tempat yang aku lupa menuju kemana nya.
Kisah itu bermula sejak hari pertama pasca tabrakan itu, aku berangkat menuju kantor ku. Aku biasa naik sepeda agar bisa ikutan juga dalam menjaga lingkungan pikirku.
Sesampai di kantor aku memarkirkan sepeda ku di tempat parkir yang bertuliskan kendaraan Direktur, pertama Darimin yang aku kenal sebagai satpam itu aku sapa, tetapi ia terlihat heran, entahlah mungkin karna ia kaget saya sudah masuk ke kantor, bagaimana tidak saya harus datang untuk melihat keadaan kantorku ini. Saya masuk ke dalam kantor lewat rute ku yang biasa, mungkin aku termasuk kepala kantor yang aneh karna masuk lewat jalur belakang, "Apakah karna aku biasa menyapa karyawan ku dulu ya?", pikirku dalam hati.
Aku pun menyapa para karyawan ku dan bergegas menuju ke kantor ku di lantai 3, maklum ini cuman kantor cabang jadi ya hanya lantai dengan 3 gedung saja. Aku naik ke atas, dan melihat pada jam arloji ku yang sudah menunjukkan pukul 08.00 tepat. Siip, aku telah menjadi contoh yang baik untuk karyawanku, "Tanpa harus banyak berbicara, lakukan dengan tindakan," ucapku dalam hati penuh kebanggaan. "Rasa nya aku sering mendengar hal itu," aku berpikir heran tapi sejurus kemudian pintu ruanganku saya buka. Saya duduk di kursi itu, dan merapikan sebentar, entah kenapa sangat terampil saya dalam merapikan tempat ini, Ya iyalah ini kan ruangan saya. aku pun tertawa sendiri. yang jadi pertanyaan saya kenapa kantor sepi sekali nya, saya mengecek tanggalan dan baru tersadar bahwa sekarang hari sabtu, hari saatnya karyawan libur sehingga yang masuk hanyalah petugas cleaning service dan satpam. O alah pantas saja mereka terlihat bingung ketika saya masuk. Saya tertawa lagi, tapi tak apalah, siapa tahu aja ada beberapa tugas yang bisa saya kerjakan karna saya tinggalkan lebih dari satu minggu. Ketika aku kembali ke meja ruanganku, aku mengecek tugas-tugas ku tetapi tidak ada berkas-berkas tugas, "Apakah karyawan ku yang mengerjakan tugas ku selama ini ? Baik juga mereka, tetapi bukankah hal ini tidak boleh dikerjakan selain oleh ku ?" wah semakin pusing aku di sini, menganggur dan akhirnya memilih menonton TV saja lah.
Tak Terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.45, tanda waktu sholat dhuhur telah tiba, saya pun segera sholat. Seusai Sholat, Saya langsung saja menuju tempat makan yang saya ingat, warung makan yang biasa disebut Burjo di depan kantor. Wow, apakah aku sering makan dengan karyawan ku di sini ya ?, pikirku lagi. karna lapar aku pun segera melahap saja makanan di situ.
Seusai makan aku pun kembali ke kantor ku, meski tetap berpikir tentang orang-orang di dalam warung makan itu, "Apakah aku memang seakrab itu dengan mereka ? Sangat rendah hati lah aku ? Bukankah biasa nya orang atas itu memandang lemah mereka yang rendah dan mengeklusifkan diri ? Berarti aku tidak, mungkin aku sudah memahami hakikat hidup kalau Alloh itu memandang bukan dari jabatan dan harta, tetapi keimanan," batinku sembari mengingat perkataan seseorang yang akhirnya menjadi motivasi hidup ku itu, sambil tersenyum bangga dengan pemikiran itu meski hanya lulusan sekolah menengah pertama. Ups, kok bisa jadi kepala kantor ya ? Ah, kagak usah dipikir deh.
Aku kembali lagi ke ruanganku. Aku kembali ke aktifitas yang membosankan ini, nonton TV. "O iya, bukannya biasa nya di meja kepala kantor ki mesti ada air teh ya ? Apakah mereka lupa ?" Pikirku. Lalu sejurus kemudian saya ambil telepon kantor dan saya hubungi nomor bagian dapur. Halo ini dengan Bapak Haryati? tanyaku. "Maaf pak, bapak Haryati sedang cuti sakit, ini dengan Wahid. Maaf,saya sedang berbicara dengan siapa ya? Kenapa pakai nomor kantor kepala? Apakah ini bapak kepala? tanya orang yang saya hubungi itu. "Iya mas, tolong bawakan aku secangkir teh ya mas, terimakasih" langsung kemudian saya tutup telpon itu.
30 menit telah berlalu, Akhirnya minuman pesanan ku pun datang juga, "Kenapa lama sekali ya ?" Pikirku. Begitu aku melihat pegawai itu, entah kenapa ia terkaget-kaget, sebelum ia mulai bicara aku sudah menyiapkan sejurus kata-kata untuknya untuk tindakan indisipliner yang dia lakukan.
"Kamu ini pegawai macam apa? Apakah kamu menunda-nunda pekerjaan? Tahukah kamu bahwa salah satu orang terkejam adalah pemalas? Nggak percaya? Lihat, ada orangtua yang malas mendidik anaknya maka dengan kejam ia membiarkan anaknya hingga tak jarang terjerumus ke dalam jurang maksiat, masih belum cukup, lihat, banyak orang-orang yang katanya sukses tapi dia itu malas akhirnya, ia menganggap bekerja itu hal yang jauh lebih utama hingga ia melalaikan ibadah dan dia KEJAM! Kejam kepada diri nya hingga ia memasukkan sendiri diri nya ke dalam api yang menyala-nyala, layaknya Qorun yang sesungguhnya ia membinasakan diri nya sendiri ke dalam bumi, apabila ia tidak malas dan tamak niscaya Alloh tidak akan mengadzab nya demikian, Paham tidak? Saya tidak marah tapi anda adalah tanggungjawab saya sebagai pemimpin anda, apa yang bisa saya katakan nanti jika saya dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh apabila bekerja di kantor ini justru membuat anda jauh dari Alloh dan apa yang ia minta kita lakukan serta apa yang harus kita tinggalkan. Mengerti kan? Ucapku penuh dengan semangat, karyawan itu hanya bisa menatap ke bawah lalu ia minta undur diri. Tetapi tetap satu hal yang aku tak suka dari raut wajahnya, ia terlihat kebingungan.
Sudahlah tak papa, melakukan kesalahan itu hal yang biasa, meski belajar dari kesalahn itu adalah hal yang luar biasa, apalagi mengubah kesalahan itu menjadi batu loncatan. Mikir apa sih aku ini. haha
Huaaaah, benar-benar malas nih hari ini, berangkat ke kantor seperti tidak ada rasa. Sudahlah saya memutuskan pulang saja ke rumah. Kantor juga udah benar-benar terlihat sangat sepi kok. Sebelum pergi dari ruangan saya tidak lupa membawa Note yang tadi ada di atas meja ku itu, setelah itu saya turun ke bawah dan segera saja menuju ke parkiran. Di sana saya dapati sepeda saya tidak berada di tempat yang tadi. Setelah sebentar mencari ternyata sepeda saya telah dipindahkan ke tempat karyawan biasa. "Ada apa gerangan ini? O iya ding, kalo di sini kan nggak panas soalnya ada atap nya. Ya udah deh langsung pulang aja," Pikirku dalam hati. Next activity: Pulang, mandi, dan dilanjutkan istirahat.
Keesokan pagi nya (bersambung)


Kamis, 20 Oktober 2011

Semangat (tak hanya) Mimpi !


Aku punya Mimpi !
Mimpi ku bukan hal yang kecil.
Mimpi ku itu adalah idealisme ku yang terpampang dalam aplikasi kehidupanku.
Aku bermimpi setelah menulis ini aku akan semangat meraih cita-citaku itu.
Aku bermimpi setelah ini aku kan tidur, dengan sebelumnya wudhu dan berdoa.
"Ya Alloh, bangunkanlah hamba Mu ini kembali, dengan keadaan sehat dan menjalani hari dengan lebih baik sebagaimana Engkau berfirman bahwa sungguh merugi bahkan celaka apabila hari esok tidak lah menjadi lebih baik dari hari ini"
Aku bermimpi dapat bangun di sepertiga malam terakhir, dengan mata lembab dan tubuh bersimpuh kepada Sang Kholiq.
Di mimpi itu aku melihat, seorang hamba yang mengharap akan banyak hal, karna memang realita tak akan selamanya sesuai dengan idealisme, bahkan bertolak belakang.
Lantas  berdoa "Ya Alloh, berilah yang terbaik bagi hamaba Mu ini"
Aku bermimpi melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi diri ku, kedua orang tua ku, dan seluruh orang yang berada di skitar ku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, apalagi sampai jatuh ke lubang "kekecewaan" yang sama.
Huuuft, setiap aku bermimpi pasti ada rintangannya.
Setiap aku bermimpi pasti tak akan berjalan mulus.
Untuk itu mari berkomitmen, agar tak hanya asal mimpi.
Karna panjang angan bukan lah hal yang baik untuk manusia.
Komitmen agar semua berjalan sesuai yang diinginkan.
Komitmen agar diri tak menjadi SOMBONG karna merasa benar sendiri.
Menghargai diri sendiri dan orang lain, serta tidak menjadi manusia yang pengecut dalam bertindak, adalah suatu komitmen juga yang harus aku pegang.
Komitmen yang mengundang konsekuensi.
Konsekuensi yang mengundang keseriusan dalam hati, tidak hanya sekedar bualan kosong.
Tidak hanya sekedar secarik kertas tak berbekas.
Yang dapat terbakar tanpa ada rasa yang tersisa.
Aku bukan bualan kosong, pengecut apalagi hanya sekedar banyak cakap.
Aku tak harap mental ku sekuat baja, namun mental yang lembut meski tak kan hancur.
Bukan mental baja sombong yang tak mau tahu.
Biarkan datang jalan akan mimpi dengan komitmen dan cambuk diri.
Alloh tidak selalu memberi apa yang kita inginkan.
Tapi IA memberi apa yang kita butuhkan.
Apa yang terbaik untuk kita.

Jumat, 07 Oktober 2011

26 Mei 2006 itu


             Melihat judul di atas mungkin teman-teman mengira saya akan posting mengenai gempa bumi dahsyat itu.. Melihat judul di atas mungkin teman-teman membayangkan kisah pilu di mana semua orang berhamburan layaknya seekor semu yang kita ganggu kompani nya

Tapi sobat, maaf..
Kisah kali ini tak ada sangkut pautnya dari itu.. Tetapi mungkin kejadiaan saat itu..
Menurutku, LUAR BIASA bagiku.. Mengenai makna perubahan..Dan nikmat karna nya..
Masih teringat jelas akan hari sebelum tanggal itu..
Malam hari..
Tak ada yang istimewa akan hal itu.. Kecuali ketika waktu telah beranjak malam..
Ketika bintang tlah bertebaran di langit nan luas.. Dan matahari tengah sibuk memancarkan sinarnya di belahan bumi lainnya..Terdengar sayup-sayup suara..Dan samar-samar bayangan orang dalam rumah.
Ya di dalam rumahku tengah diadakan tausyiah rutin yang biasanya diisi dengan tausyiah-tausyiah dari bapak.. Di sana saling transfer ilmu dan cerita akan banyak hal. Bercerita tentang berbagai banyak pengalaman hidup yang sudah atau sedang kami alami. Tetapi memang dasar kami yang kurang terbuka dengan kedua orangtua, tausyiah ini banyak didominasi dengan tausyiah-tausyiah dari bapak ku. Bapak yang begitu so sweet karma ia menunjukkan kelembutannya melalui otot nya yang kuat memapahku, menunjukkan senyum lembutnya dengan muka tegasnya ketika aku berbuat salah, dan menyampaikan tiap belaian lembut melalui tutur katanya.
Beliau menyampaikan kepada kami tentang kunci sukses, tentang baimana membuka dunia yang padat ini, ia berikan kami bentuk dan bagaimana cara mendapatkan kunci itu, karma kunci itu tidak dibuat, kunci itu sudah ada di balik keringat-keringat kita saat berusaha keras, dibalik tiap impian kita, dan bapak menyampaikan itu semua dengan penuh kesabaran meski anak nya tak jarang acuh terhadap ucapan demi ucapannya. Termasuk aku.
Sampailah pada akhir dari tausyiah ini (karma aku melihat jam dan sudah 1 jam berlalu) dan ditutup dengan mengingatkan untuk membiasakan bermunajat atau berdoa pada Alloh terutama malam hari. Kami pun mengiyakan dengan nada seadanya. Setelah itu ditutup dengan doa kafaratul majlis dan selesailah acara tausyiah. Namun, entah ada apa, sesuatu menelisik di dalam jiwa ku, tanpa ku sadari, ia tengah menjadi awal dalam kebiasaan baru ku. Terasa ada sepercik keinginan tuk melakukan sesuatu..

02.37, 26 Maret 2006
Masih ku ingat waktu itu.. Ketika ku mampu terbangun di kala biasa ingin ku memuaskan lelapku.. Tetapi sungguh, hari itu semangat itu terasa mengalir di tiap jiwaku..Ku mantapkan kaki menuju kamar mandi itu setelah ku layangkan doa atas terbangunnya aku dari tidurku..
”Wah, mandi jam segini ternyata segar juga ya,” kataku dalam hati
Seakan mandi dengan mengangkat segala penatku dan membukakan mataku akan bayang-bayang mimpi semu..Itu bukanlah yang ternikmat ternyata, tetapi ada yang lebih menyenangkan dan ini puncak dari momentku saat itu..
Ya aku melakukan perintahNYA yang mungkin saat itu belum pernah aku lakukan dengan penuh kesadaran.. Aku menghadapkan wajahku ke arah kiblat dan aku dirikan tiang-tiang dari agama ku.. Aku tunduk merendahkan diri karna aku yakin tanpa aku merendahkan diri sekalipun aku tetaplah makhluk yang jauh lebih rendah dari NYA. Aku berdoa padaNYA, meminta dengan penuh harap, memohon ampun atas segala dosa yang pernah aku perbuat, karna aku punya little secrets yang itu merupakan dosa terberat dalam hidupku saat itu.
Dalam doa itu pun terbayang, wajah orangtuaku, orang tua yang tidak lagi muda, bahkan ia tua. Yang tak pernah henti-henti nya mengajarkan kehidupan padaku. Di sana terlihat wajah ku ketika tidur, padahal ia tengah mencoba tuk membuatku mampu belajar dari pengalaman demi pengalamannya. Betapa tak menghargainya diriku, aku tak kuat, aku tak kuat menahannya hanya di hati, aku mengucapkannya, semua melalui lisan.
“Ya Alloh, hamba lemah ya Alloh, maka kuatkanlah hamba, Bagaimana mampu orangtua melihat anaknya menderita, bagaimana mampu mereka melihat anaknya merasakan beban yang berat, tapi lihat hamba Ya Alloh, seorang anak yang tetap tenang melihat ayah nya pulang penuh peluh, ketika ayahnya datang aku bertanya papa bawa apa? Ketika ia menjawab tidak membawa apa-apa aku seenaknya menyalahkan orangtuaku itu, tak terbesit ya Alloh pertanyaan ‘Bagaimana yah, apek nggak? Mau saya buatkan apa? Kenapa hamba tidak menanyakan hal itu?’ ya Aloh, inilah hamba Ya Alloh, hamba yang tahu Engkaulah penerima segala taubat hambanya, dan ijinkan aku untuk berkata pada diri ku sendiri bahwa akan datang pagi ini anak yang baru, yang berbakti pada kedua orangtuanya”, doa ku dengan tangis yang membanjiri pipi.
Tak terasa subuh telah mendekat dan ketika tlah kuputuskan tuk beranjak dari musholla kecil rumahku itu. Aku dikagetkan oleh sesosok yang taka sing lagi. Bapakku telah menantiku sembari melayangkan senyum terindahnya..
Dan tanpa kusadari aku telah berada dalam dekapan pelukannya..
Hangat dan tak terlupakan..
Ingin rasanya aku terus dalam dekapan ini..
Ya mungkin dekapan yang membuatku berusaha istiqomah hingga saat ini :)
Ya, inilah moment di mana aku solat Tahajud pertama dalam hidupku dengan penuh kesadaran..
Setelah itu terjadilah peristiwa yang membuat kotaku ini masuk Koran, yaitu gempa bumi 2006 dan Alhamdulillah, Alloh masih memberi ijin kepada kami sekeluarga untuk tetap hidup, mencari dan menemukan hikmah—hikmah yang lain yang belum sempat kami raih jika IA memanggil kami waktu itu.
Memang mungkin hanya cerita sederhana sih..
Sepenggal kisah terselip dalam gempa jogja yang dahsyat itu..
Tapi aku selalu yakin bahwa tiap moment yang IA berikan pada Ku pasti kan berujung indah
:)

Jumat, 23 September 2011

Bapak Mengajarkan bukan Mengajarkan


Di suatu rumah itu, sang anak telah melakukan rutinitas sehari-hari nya.
Pagi hari, entah apakah itu seperti anak-anak lainnya.
Aktifitas yang ia lakukan ba'da subuh itu.
Bergelut dengan air dan kain-kain.
Sekedar untuk satu hal.
Berbakti pada orang tua.
Kisah ini ada pada waktu itu. Inilah ceritanya
Sang anak yang sudah beranjak dewasa itu telah mendapat pekerjaan.
Sama hal nya dengan sang anak yang bertambah usia, sang bapak pun juga telah lanjut usia.
Ayah yang selama ini sibuk dengan pekerjaan di rumah itu kini telah lelah, sampai pada kodratnya.
"Anak mana yang bisa dengan tenang mengetahui hal ini ?" Pikirnya dalam hati
Atas inisiatif nya akhirnya ia melihat gerak-gerik sang ayah, bagaimana caranya mencuci baju.
Setelah ia rasa mampu, ia bertekad untuk menggantikan tugas itu.
"Besok aku harus bangun lebih awal, agar pekerjaan ini bisa aku kerjakan lebih dahulu daripada bapakku" Pikirnya dalam hati
Azan berkumandang tanda subuh tlah tiba, sang anak dan bapaknya berangkat ke masjid.
Yang berbeda adalah sang anak telah lebih dulu pulang agar lebih cepat dari sang ayah.
Ia langsung menjalankan tugasnya.
ia mulai dari mengurutkan mulai dari yang terberat hingga yang teringan, ia beri sabun, dan ia kucek hingga bersih.
Melihat inisiatif sang anak, sempat terbesit rasa haru, tetapi ada gengsi yang menggelitik dalam roman ayah ini, lantas ia langsung menghampiri dan mengajarkan bagaimana cara mencuci. Akhirnya lihailah anak itu dalam mencuci, dan itu menjadi kebiasaan dalam hidup nya.
Hari demi hari telah dilalui, karna cerita ini tak hanya sampai disini.
Sang anak semakin buru-buru dalam pulang sehabis sholat karna cuciannya pun juga tak sedikit.
Alhasil karna semakin banyaknya cucian juga dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang ingin dia kerjakan ia pun terlambat berangkat bekerja.
Hingga di suatu hari, ia mendapatkan semprotan dari kepala kantor nya "kamu sudah telat masuk 3, nanti yang keempat akan saya beri kamu surat peringatan dan jika masih saja seperti ini maka kamu akan kami keluarkan," kata kepala kantor itu dengan penuh ketegasan.
Lalu pekerjaan-pekerjaan rumah itu pun juga telah menyita waktunya hingga banyak teman-teman kantornya yang mengeluh juga kinerja nya menurun"
Mengetahui hal ini, dia sempat bingung, diantara dua pilihan mana yang harus ia pilih.
Pekerjaan rumah atau pekerjaan di kantor ?
Dia bingung
Dia sempat stress karna dia tak butuh pembelaan jika ia memang salah, tidak butuh orang tuk membenarkan kesalahan yang dia perbuat, kara ia pun juga sangat tahu baha TELAT adalah hal YANG TAK BAIK.
Akhirnya ia berharap dapat dorongan dari sang ayah, mendapat pembelaan dari sang ayah, cukup beliau yang membelaku.
"Yah, aku sudah dipangil oleh kepala ku gara-gara saya sering telat berangkat kerja," katanya pasrah
"Lha kenapa bisa ?" Tanya ayahnya tak lagi datar
"Aku telat gara-gara pekerjaan di rumah" jawabku 
"Tidak, tidak bisa itu anak ku."
"Kamu salah, kamu telah melakukan kesalahan itu."
Dia kaget, kaget karna ia mendengar hal yang berbeda dengan bayangannya.
"Benar, Bapak mengajarkanmu bagaimana cara mencuci, tapi Bapak tidak mengajarkanmu telat bekerja"
"Benar, Bapak mengajarkanmu menyapu tapi  Bapak tidak mengajarkan tuk mengabaikan pekerjaan di kantor"
"Benar, Bapak mengajarkanmu banyak hal di rumah tapi Bapak tidak mengajarkanmu tuk melalaikan pekerjaan mu"
"Dan ini yang paling penting, benar Bapak telah mengajarkanmu Birul Walidain, tapi Bapak tidak mengajarkanmu tuk lupa berdoa, tuk tergesa-gesa dalam sholat, tuk melalaikan Alloh demi aku bapak mu ini."
"Bapak masih kuat, jauh lebih kuat daripada melihatmu tak lagi istiqomah dalam beribadah."
"Bapak masih kuat, jauh lebih kuat daripada melihatmu menjadi orang yang tak bertanggung jawab."
"Bapak masih kuat, jah lebih kuat daripada melihatmu melupakan kami dan tak lagi menganggap kami ada."
"Bapak masih kuat nak."
sang anak hanya mampu menangis dan selanjutnya silahkan dibayangkan sendiri karna penulis pun belum tahu :)